Jepara| Mata Pena News – Nasib nahas menimpa dua pemuda asal Desa Bringin, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Alih-alih pulang dengan tawa usai menikmati hiburan, keduanya justru berakhir dengan luka dan trauma setelah diduga menjadi korban pengeroyokan brutal di jalanan, Minggu (03/05/2026).
Peristiwa bermula ketika AS dan SI, dua pemuda Bringin, pulang dari acara dangdut “Romansa” di Desa Bantrung. Namun, perjalanan mereka terhenti di pertigaan depan SMKN Batealit. Di titik itulah, menurut keterangan korban, mereka dicegat sekelompok pemuda berjumlah sekitar 10 orang.
Tanpa banyak kata, situasi berubah mencekam. Pengeroyokan pun pecah.
“Langsung dikeroyok, tidak sempat menghindar,” ungkap AS
Akibat kejadian itu, AS mengalami luka serius di bagian kepala hingga harus dilarikan ke Puskesmas Batealit untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara SI juga mengalami kekerasan fisik dalam insiden tersebut.
Tak terima atas perlakuan yang mereka alami, kedua korban akhirnya melaporkan kejadian ini ke Polsek Batealit, didampingi sejumlah rekan mereka.
Kasus ini kian memanas setelah korban mengaku mengenali salah satu terduga pelaku.
“Ya, saya tahu salah satu yang menganiaya saya. Satu desa dengan saya,” ujar korban.
Berdasarkan keterangan yang korban, salah satu terduga pelaku disebut berinisial YK, yang diduga merupakan anak dari salah satu perangkat Desa Bringin. Informasi ini memicu perhatian publik dan berpotensi memperluas tekanan sosial di tengah masyarakat.
Namun demikian, status tersebut masih sebatas dugaan dan menunggu pembuktian melalui proses hukum.
Dikonfirmasi terpisah, Kanit Reskrim Polsek Batealit, Aiptu Agus Rahman , membenarkan adanya laporan terkait insiden pengeroyokan tersebut.
“Ya benar, ada dua pemuda yang melapor ke Polsek Batealit dan didampingi beberapa rekannya,” ungkapnya.
Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman dan belum merilis identitas resmi para pelaku.
Peristiwa ini kembali menjadi alarm keras atas maraknya kekerasan jalanan di wilayah Batealit. Di sisi lain, publik juga menyoroti pentingnya penegakan hukum yang transparan dan tanpa intervensi, terlebih jika benar ada keterkaitan dengan lingkar kekuasaan di tingkat desa.
Jika pelaku dibiarkan menghilang, pesan yang sampai ke publik sederhana tapi berbahaya, kekerasan bisa dinegosiasikan, hukum bisa ditunda, dan keadilan bisa dikalahkan oleh relasi.
Batealit sedang diuji. Aparat juga disorot, Pertanyaannya tinggal satu, siapa yang benar-benar berani menuntaskan kasus ini sampai tuntas
Reporter :Obeng /Akip











