Hadapi Kenaikan Harga Pangan, UPER Berdayakan Warga Depok lewat Budikdamber

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 11 Mei 2026 - 16:48 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta | Mata Pena News – Pernyataan Presiden RI mengenai urgensi ketahanan energi dalam KTT BIMP-EAGA di Cebu, Filipina, pada 7 Mei lalu menjadi sinyal serius bagi ketahanan ekonomi keluarga di wilayah penyangga perkotaan.

Ketidakstabilan global yang mendorong kenaikan harga energi dinilai dapat berdampak langsung pada meningkatnya biaya distribusi pangan dan kebutuhan pokok, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat di kawasan padat penduduk dan kelompok ekonomi rentan.

 

Masyarakat di wilayah penyangga Jakarta, seperti RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Depok, menjadi salah satu kelompok yang mulai mengantisipasi dampak tersebut.

Di kawasan padat penduduk ini, ancaman kenaikan harga pangan menjadi beban ganda bagi keluarga pensiunan yang telah kehilangan 30–50 persen pendapatan mereka. Menghadapi keterbatasan lahan dan penurunan daya beli tersebut,

Universitas Pertamina menginisiasi langkah preventif dengan memanfaatkan Posyandu sebagai pusat edukasi ketahanan pangan keluarga.

 

“Posyandu adalah simpul sosial yang sangat kuat karena berada di garda terdepan keluarga. Melalui wadah ini, kita mentransformasikan pesan Presiden mengenai ketahanan pangan menjadi aksi nyata. Kami membina warga agar mampu memproduksi pangan sendiri, sehingga dapur mereka tetap aman meskipun terjadi guncangan harga di pasar global,” ujar Evi Sofia; Ketua Tim PkM Universitas Pertamina.

Baca Juga:  Atasi Kekeringan, PKK Jepara Bersama BPBD Salurkan 4.000 Liter Air Bersih ke Desa Banjaran

 

Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan adalah sistem Budikdamber atau Budidaya Ikan dalam Ember yang terintegrasi dengan hidroponik. Melalui model ini, warga bisa memanen protein ikan sekaligus sayuran secara bersamaan hanya dengan memanfaatkan teras rumah yang sempit.

 

Model ini dinilai sangat efisien karena menerapkan sistem resirkulasi nutrisi alami. Dalam sistem tersebut, limbah ikan diolah secara mandiri menjadi pupuk bagi tanaman, sehingga warga dapat meminimalisir penggunaan air serta biaya perawatan namun tetap memperoleh hasil panen yang maksimal.

 

Peserta program ini didominasi oleh warga RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya yang antusias mengubah lahan sempit menjadi unit produksi pangan mandiri. Program yang telah dilaksanakan sejak akhir tahun 2025 ini menjadi bantalan ekonomi bagi masyarakat, terutama kelompok pensiunan yang rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.

 

“Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, kemandirian pangan adalah pertahanan terbaik. Dengan modal yang sangat terjangkau, satu keluarga dapat menekan pengeluaran belanja pangan bulanan secara signifikan, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga meskipun harga energi melonjak,” tambah Evi.

Baca Juga:  Raperda Perubahan APBD 2026 Disepakati, Pemkot Bogor Fokus Perkuat Pelayanan Publik

 

Manfaat nyata dari kemandirian pangan ini dirasakan langsung oleh warga di tingkat akar rumput. Ketua RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Endang Sungkono, menambahkan bahwa warga di wilayahnya kini memiliki aktivitas produktif yang memberikan dampak instan bagi konsumsi harian keluarga.

 

“Dengan hadirnya inovasi Budikdamber ini, warga kami, khususnya para pensiunan, menjadi lebih berdaya. Selain membantu ekonomi, kegiatan ini juga memberikan semangat baru bagi warga untuk tetap produktif meski di lahan terbatas,” beber Endang.

 

Pjs Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, menegaskan pentingnya peran akademisi dalam mentransformasikan isu global menjadi solusi nyata. Inisiatif ini sekaligus menjadi langkah konkret universitas dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-2 (Tanpa Kelaparan) dan poin ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).

 

“Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Masalah ketahanan energi dan pangan yang diserukan Presiden memerlukan respons akademis yang aplikatif. Melalui penguatan ekonomi keluarga berbasis komunitas seperti ini, kita sedang membangun fondasi ketahanan nasional yang lebih kokoh dari tingkat yang paling dasar,” tutup Prof. Djoko.

Irawan

Berita Terkait

tes
BURUH GERUDUK KANTOR LPSK JATIM! JAMKESWATCH FSPMI DESAK KEPASTIAN BIAYA PENGOBATAN KORBAN PENGANIAYAAN MOJOKERTO
HIPMI Bogor, Bekasi, dan Depok Gelar Business Matching, Libatkan 150 Pengusaha Muda
Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan
POTENSI WISATA DESA IKONIK BISA MATI JIKA DSPARBUD TUTUP MATA
H.M Saifudaulah SH.MH.M.Pd.I ,Dari PKS(partai keadilan sejahtera)Serap Aspirasi Warga RW 06 kelurahan jati Waringin, Soroti Masalah Banjir dan drainase.
Rekrut Tenaga Ahli Bergelar Profesor, Jamaludin Malik Terlibat Adu Komentar dengan Akun Info Jepara Terkini
Sekretaris DPN Jamkeswatch FSPMI Heri Irawan Sosialisasikan JKN kepada Bidang Perempuan PUK SPEE FSPMI PT Honoris Industry
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:49 WIB

tes

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:35 WIB

BURUH GERUDUK KANTOR LPSK JATIM! JAMKESWATCH FSPMI DESAK KEPASTIAN BIAYA PENGOBATAN KORBAN PENGANIAYAAN MOJOKERTO

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:36 WIB

HIPMI Bogor, Bekasi, dan Depok Gelar Business Matching, Libatkan 150 Pengusaha Muda

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:05 WIB

Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:32 WIB

POTENSI WISATA DESA IKONIK BISA MATI JIKA DSPARBUD TUTUP MATA

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB