Mengapa Bantuan Sering Terlambat? Pakar UPER Soroti Tantangan Logistik Bencana di Sumatera

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 23 Desember 2025 - 16:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Jakarta |  Mata Pena News – Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November lalu masih menyisakan berbagai kekhawatiran, terutama terkait penanganan bencana dan pemulihan pascakejadian. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 16 Desember 2025 mencatat sebanyak 1.030 orang meninggal dunia, sementara sekitar 7.000 lainnya mengalami luka-luka serta 146.758 rumah rusak.

Penanganan pascabencana menjadi aspek yang krusial, mengingat 72 jam pertama setelah bencana kerap disebut sebagai golden time dalam upaya penyelamatan korban dan penekanan jumlah korban jiwa. Namun, di tengah kondisi darurat tersebut, distribusi logistik yang dinilai lambat dan belum optimal kerap memicu polemik di tengah masyarakat. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di lapangan

Pakar logistik sekaligus dosen Teknik Logistik Universitas Pertamina, Dr. Eng. Iwan Sukarno, ST., M.Eng., CLIP., menanggapi sorotan publik terkait distribusi logistik kebencanaan di wilayah Sumatera yang dinilai belum merata dan belum berjalan secara optimal.

Dr. Iwan menjelaskan bahwa dalam banyak kasus banjir bandang di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, bantuan sebenarnya telah tiba dengan cukup cepat di posko-posko utama. Namun, di sisi lain, bantuan tersebut kerap menumpuk dan mengalami keterlambatan distribusi akibat sulitnya menjangkau wilayah terdampak yang mengalami kerusakan parah.

Baca Juga:  Kembangkan Drone Otonom Bernama SkyFast, Mahasiswa UPER Raih Penghargaan Bergengsi di Kompetisi Internasional SAFMC 2026 Singapura

“Masalah utama sebenarnya berada pada tahap distribusi terakhir, yaitu bagaimana bantuan bisa sampai ke lokasi-lokasi yang terisolasi dengan cepat dan merata. Medan yang sulit serta kerusakan jalan dan jembatan membuat penyaluran bantuan melalui jalur darat menjadi tidak optimal. Akibatnya, bantuan menumpuk di satu titik, sementara wilayah lain justru belum tersentuh,” ujarnya.

Lebih lanjut, persoalan distribusi logistik kebencanaan tidak semata-mata disebabkan oleh kondisi geografis yang sulit dijangkau. Dr. Iwan menekankan bahwa setiap wilayah perlu memiliki peta distribusi logistik kebencanaan yang disesuaikan dengan karakter geografisnya masing-masing.

Ketersediaan peta dan data tersebut menjadi fondasi penting untuk mempercepat pengambilan keputusan dan memperkuat efektivitas distribusi bantuan saat bencana terjadi.

“Tanpa pemetaan yang jelas mengenai jumlah penduduk, lokasi permukiman, serta tingkat aksesibilitas wilayah, proses distribusi logistik saat bencana cenderung bersifat reaktif dan lambat.

Pemanfaatan teknologi seperti Geographic Information System (GIS), big data, dan sistem informasi logistik dapat membantu memetakan wilayah terdampak, menentukan rute alternatif, menetapkan prioritas distribusi secara objektif, hingga mengoptimalkan penggunaan moda transportasi non-darat,” tambah Dr. Iwan.

Baca Juga:  Perempuan Muda Asal Bogor, Gisya Anelissia Milda Siap Bawa Nama Indonesia ke Panggung Internasional Lewat ARICE 2026

Melihat kerusakan yang parah dan tingginya korban jiwa pada bencana Sumatera tersebut, menjadi pembelajaran penting. Di mana integrasi rantai pasok lokal serta kemitraan logistik sebaiknya dibangun bagi setiap wilayah sebelum terjadinya bencana. Hal ini membantu dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak pada masa golden hours sambil menunggu bantuan dari pusat.

“Bencana tidak bisa dihindari, tetapi keterlambatan bantuan bisa dimitigasi jika sistem logistik dibangun berbasis data, teknologi, dan kolaborasi yang efektif bersama kapasitas lokal seperti penyedia transportasi, supermarket, hingga perusahaan logistik lokal,” tegasnya

Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berfokus pada pengembangan teknologi, Universitas Pertamina mendorong pengembangan solusi yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat, termasuk dalam penanganan kebencanaan. Melalui pendekatan interdisipliner dan peminatan seperti sustainable energy logistics

Pada Program Studi Teknik Logistik, universitas ini menyiapkan talenta yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan, ketahanan sistem, dan dampak sosial, sejalan dengan komitmen menghadirkan pendidikan aplikatif yang mampu berkontribusi langsung pada penguatan respons nasional terhadap berbagai tantangan.

Irawan

Berita Terkait

Sabet Juara Tiga Besar Nasional, Tim Pertalight UPER Gagas Solusi Hak Pejalan Kaki di Kota Besar
Perempuan Muda Asal Bogor, Gisya Anelissia Milda Siap Bawa Nama Indonesia ke Panggung Internasional Lewat ARICE 2026
Kembangkan Drone Otonom Bernama SkyFast, Mahasiswa UPER Raih Penghargaan Bergengsi di Kompetisi Internasional SAFMC 2026 Singapura
Lemahnya Pengawasan Dinas Pendidikan Banyuasin, Atap Teras SMPN 3 Terlangu Ambruk
Hari Bumi: Pakar UPER Peringatkan Bahaya Gas Metana di Balik Krisis TPA Indonesia
Warisan Kartini di Jalur Energi: Enam Srikandi Universitas Pertamina Kawal Transisi Energi dari Hulu ke Hilir
Hak Pendidikan dan Realitas yang Terabaikan
UPER dan PF, Fondasi Pertamina dalam Menjawab Tantangan Transisi Energi
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 13:21 WIB

Sabet Juara Tiga Besar Nasional, Tim Pertalight UPER Gagas Solusi Hak Pejalan Kaki di Kota Besar

Rabu, 13 Mei 2026 - 17:48 WIB

Perempuan Muda Asal Bogor, Gisya Anelissia Milda Siap Bawa Nama Indonesia ke Panggung Internasional Lewat ARICE 2026

Kamis, 7 Mei 2026 - 15:03 WIB

Kembangkan Drone Otonom Bernama SkyFast, Mahasiswa UPER Raih Penghargaan Bergengsi di Kompetisi Internasional SAFMC 2026 Singapura

Kamis, 7 Mei 2026 - 09:02 WIB

Lemahnya Pengawasan Dinas Pendidikan Banyuasin, Atap Teras SMPN 3 Terlangu Ambruk

Selasa, 5 Mei 2026 - 16:19 WIB

Hari Bumi: Pakar UPER Peringatkan Bahaya Gas Metana di Balik Krisis TPA Indonesia

Berita Terbaru