Hari Bumi: Pakar UPER Peringatkan Bahaya Gas Metana di Balik Krisis TPA Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 5 Mei 2026 - 16:19 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

Jakarta | Mata Pena News – Peringatan Hari Bumi 22 April lalu menjadi titik balik untuk mengevaluasi langkah nyata Indonesia dalam menghadapi krisis iklim.

Laporan STOP Methane Project dari UCLA (2025) mengungkap fakta mengejutkan: lokasi pembuangan sampah di Jakarta terdeteksi satelit sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia dalam kategori fasilitas limbah global.

Gas metana yang dilepaskan dari tumpukan sampah organik ini memiliki kekuatan memanaskan bumi hingga 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2​).

 

Ir. I Wayan Koko Suryawan, Ph.D., pakar Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER), menegaskan bahwa temuan ini adalah alarm keras.

“Data satelit tidak bisa berbohong. Ketika Jakarta menempati posisi kedua dunia, itu artinya kita sedang menghadapi bom waktu iklim. Satu titik emisi TPA yang pekat di Jakarta bisa menyumbang pemanasan global setara dengan polusi dari satu juta mobil SUV dalam setahun,” ujar Dr. Koko.

 

Data Kementerian Lingkungan Hidup (2025) memperkuat urgensi ini: dari 56,63 juta ton sampah nasional tahunan, sebanyak 21,85% masih ditimbun secara terbuka (open dumping). Hal inilah yang memicu pelepasan gas metana yang sangat pekat hingga terdeteksi oleh teknologi satelit internasional.

Baca Juga:  Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik

 

Melalui riset terbarunya berjudul “Achieving Zero Waste for Landfills by Employing Adaptive Municipal Solid Waste Management Services”, Dr. Koko menawarkan solusi adaptif untuk memutus rantai emisi ini langsung dari sumbernya. Penelitian ini telah diterbitkan di jurnal internasional bereputasi,

Ecological Indicators (Elsevier), yang memiliki H-Index 146 dan masuk dalam kategori jurnal Q1 — peringkat tertinggi dalam kualitas jurnal ilmiah.

 

Dalam kajiannya yang melibatkan 651 warga Jakarta dari kawasan kumuh dan non-kumuh, Dr. Koko menemukan fakta menarik: warga Jakarta sebenarnya sudah sangat sadar bahwa memilah sampah itu penting. Namun, kesadaran ini “macet” dan tidak menjadi aksi nyata karena fasilitas yang tersedia belum mendukung.

 

“Masyarakat kita sudah paham, tapi mereka bingung harus bertindak bagaimana karena sistemnya belum siap. Karena itu, Jakarta tidak bisa lagi cuma mengandalkan imbauan.

Kita butuh cara yang lebih dekat dengan warga, seperti sistem pengingat di ponsel, memaksimalkan bank sampah, hingga menggerakkan tokoh masyarakat atau kader lokal sebagai contoh di lingkungan masing-masing,” jelas Dr. Koko.

 

Riset ini turut menyoroti perbedaan kebutuhan warga. Bagi masyarakat di kawasan elit, teknologi Smart City dan sensor pengangkutan sampah digital adalah solusinya. Sementara bagi warga di pemukiman padat, yang paling mendesak adalah kepastian sampah mereka diangkut tepat waktu dan adanya wadah pemilahan yang memadai. Tanpa solusi yang menyentuh akar rumput ini, peringkat Jakarta sebagai penyumbang metana dunia akan sulit diperbaiki.

Baca Juga:  UGG Tampil di ICCIT 2026, Dosen Paparkan Riset Digitalisasi Bisnis Fotografi

 

Dr. Koko turut menyarankan percepatan teknologi penangkapan gas metana (Landfill Gas/LFG) di TPA Bantargebang untuk dikonversi menjadi energi listrik, mengingat kapasitas infrastruktur saat ini masih jauh dari optimal.

Selain investasi teknologi, kunci perbaikan peringkat Jakarta sebagai penyumbang metana dunia terletak pada transparansi data emisi yang proaktif serta solusi inklusif yang menyentuh akar rumput, sehingga pemerintah tidak hanya bergantung pada laporan satelit asing untuk memantau krisis ekologis di wilayahnya sendiri.

 

Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, S.Si., M.Si., menegaskan peran UPER sebagai institusi berbasis sains dan teknologi yang didirikan PT Pertamina (Persero) dalam mengatasi krisis ini.

 

“UPER berkomitmen menghadirkan riset terapan dan teknologi penangkapan metana untuk memastikan era open dumping segera berakhir sesuai UU No. 18 Tahun 2008, demi mendukung SDG 11 (Kota Berkelanjutan) dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim),” tutupnya.” tutup Prof. Djoko.

Irawan

Berita Terkait

Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik
UGG Tampil di ICCIT 2026, Dosen Paparkan Riset Digitalisasi Bisnis Fotografi
Lewat Riset Hidrogen, Mahasiswa UPER Sabet Juara 1 Young Scientist Competition 2026
Lantik Lebih dari 1.700 Mahasiswa Baru, UPER Siapkan Talenta Strategis Masa Depan
Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada
Pakar UPER Soroti Komunikasi di Tengah Gempa NTT, Apa yang Perlu Diperkuat?
Hadapi Variasi Ukuran Produk Tekstil, Mahasiswa UPER Rancang Alat Bantu Quality Control
Ratusan Anak TK dan KB Ikuti Lomba Mewarnai HUT ke-81 RI di Lawang Wetan
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:40 WIB

Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik

Jumat, 25 September 2026 - 06:55 WIB

UGG Tampil di ICCIT 2026, Dosen Paparkan Riset Digitalisasi Bisnis Fotografi

Rabu, 23 September 2026 - 15:11 WIB

Lewat Riset Hidrogen, Mahasiswa UPER Sabet Juara 1 Young Scientist Competition 2026

Selasa, 15 September 2026 - 07:55 WIB

Lantik Lebih dari 1.700 Mahasiswa Baru, UPER Siapkan Talenta Strategis Masa Depan

Kamis, 10 September 2026 - 08:41 WIB

Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB