Redaksi Berkisah,
Kisah Sahabat Rasulullah SAW: Abbas bin Abdul Muthalib – Cahaya di Ujung Usia
Oleh: Rudi Irawan
Pembaca yang dirahmati Allah SWT, MataPenaNews hari ini menyuguhkan kisah sahabat Rasul Abbas bin Abdul Muthalib – Cahaya di Ujung Usia
Dalam sejarah perjuangan Islam,kisah
Di tengah keagungan Makkah dan gegap gempita masa kenabian, nama Abbas bin Abdul Muthalib muncul sebagai sosok istimewa—paman Rasulullah SAW yang merangkul Islam dengan sepenuh hati di usia senja.
Abbas lahir sekitar tiga tahun sebelum peristiwa Gajah, saudara kandung dari ayah Rasulullah, Abdul Muthalib. Sejak muda, ia dikenal sebagai saudagar yang cerdas, dermawan, dan disegani di kalangan Quraisy. Meski awalnya tidak menyatakan keislamannya secara terbuka, Abbas adalah sosok yang diam-diam melindungi keponakannya dari kerasnya tekanan kaum kafir.
Kala Perjanjian Aqabah berlangsung, Abbas hadir sebagai pelindung Nabi, meski belum memeluk Islam. Ia memperlihatkan kesetiaannya bukan hanya sebagai keluarga, tetapi juga sebagai penopang misi kenabian. Hatinya bergerak perlahan, hingga akhirnya Allah membukakan pintu hidayah setelah Perang Badar.
Ketika cahaya Islam memenuhi relung hatinya, Abbas berdiri di barisan kaum mukminin dengan penuh semangat. Rasulullah menyambut keislamannya dengan bahagia, sebab keimanan Abbas bukan hanya penguat ukhuwah, tapi juga penanda bahwa Islam telah merasuk dalam lingkaran dekat keluarga Nabi.
Dalam Perang Hunain, Abbas memperlihatkan keberanian yang luar biasa. Saat sebagian pasukan kaum Muslimin sempat terpukul mundur, Abbas tetap berdiri kokoh di sisi Rasulullah, meneriakkan panggilan yang membangkitkan kembali semangat para sahabat.
Ia wafat pada masa Khalifah Utsman bin Affan, dan disemayamkan di Baqi’. Sosoknya menjadi saksi bahwa hidayah bisa datang kapan saja, dan ketulusan iman tak mengenal usia. Abbas bin Abdul Muthalib adalah gambaran kesetiaan keluarga, keteguhan seorang mukmin, dan kemuliaan sahabat Nabi.
Salam hormat,
Tim Redaksi Mata PenaNews










