Redaksi Berkisah, Kisah 10 Muharam dan Keutamaan Puasa Asyura
Mata Pena News –
Oleh: Rudi Irawan
Pembaca yang di rahmati Allah SWT,di hari ini Redaksi berkisah menyuguhkan kisah 10 Muharam Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kalender Hijriah, Muharam menjadi penanda awal tahun baru Islam sekaligus termasuk ke dalam empat bulan haram (bulan yang dimuliakan).
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
Inna ‘iddata asy-syuhūri ‘indallāhitsnā ‘asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqas-samāwāti wal-ardha minhā arba‘atun hurum.
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (yang dimuliakan).”
(QS. At-Taubah: 36)
Di antara hari yang istimewa dalam bulan Muharam adalah tanggal 10 Muharam yang dikenal sebagai Hari Asyura. Hari ini memiliki sejarah panjang yang sarat dengan pelajaran keimanan, kesabaran, dan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Kisah Nabi Musa AS dan Fir’aun
Dalam sebuah hadis sahih diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharam.
Beliau bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab bahwa hari tersebut adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun, serta menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian bersabda:
نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ
Nahnu ahaqqu bi Mūsā minkum.
“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin untuk melaksanakannya.
Peristiwa penyelamatan Nabi Musa AS tersebut diabadikan Allah dalam Al-Qur’an:
فَأَنْجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ
Fa anjainā Mūsā wa man ma‘ahu ajma‘īn. Tsumma aghraqnāl-ākharīn.
“Lalu Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya semuanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain.”
(QS. Asy-Syu’ara: 65-66)
Keutamaan Puasa Asyura
Puasa pada tanggal 10 Muharam memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Ahtasibu ‘alallāhi an yukaffiras-sanatallatī qablah.
“Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.”
(HR. Muslim)
Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh pada bulan Muharam, terutama melaksanakan puasa Asyura.
Menyelisihi Tradisi Yahudi
Pada akhir hayat beliau, Rasulullah SAW juga berkeinginan menambah puasa sehari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharam (Tasu’a), agar berbeda dengan kebiasaan kaum Yahudi.
Beliau bersabda:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
La’in baqītu ilā qābilin la-ashūmannat-tāsi‘.
“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”
(HR. Muslim)
Oleh karena itu, para ulama menganjurkan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam, atau 10 dan 11 Muharam.
Hikmah Asyura
Dari peristiwa Asyura, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting:
Pertolongan Allah pasti datang kepada orang-orang yang beriman dan bersabar.
Kesombongan dan kezaliman pada akhirnya akan binasa sebagaimana Fir’aun.
Syukur atas nikmat Allah dapat diwujudkan dengan ibadah dan ketaatan.
Puasa Asyura menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan memohon ampunan-Nya.
Sejarah para nabi mengajarkan bahwa kemenangan kebenaran membutuhkan kesabaran dan keteguhan iman.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk menghidupkan sunnah puasa Asyura dan mengambil hikmah dari perjalanan para nabi serta orang-orang saleh.
Wallāhu A’lam Bish-Shawāb.
Salam Hormat, Tim Redaksi











