Bogor | Mata Pena News – Di saat sebagian masyarakat mulai jenuh dengan pemimpin yang lebih sibuk membangun citra daripada menyelesaikan persoalan rakyat, muncul sejumlah kepala daerah yang justru mendapat simpati luas karena dinilai bekerja dengan hati.
Bukan sekadar tampil di balik podium atau layar media sosial, mereka hadir langsung di tengah masyarakat — mendengar keluhan warga, meninjau persoalan lapangan, hingga terlibat dalam penyelesaian masalah sosial.
Fenomena inilah yang membuat nama Dedi Mulyadi dan Sherly Tjoanda semakin banyak diperbincangkan publik. Keduanya dianggap menghadirkan gaya kepemimpinan yang sederhana, humanis, dan dekat dengan rakyat kecil.
Dalam berbagai kesempatan, Dedi Mulyadi dikenal aktif turun langsung ke lapangan. Mulai dari meninjau jalan rusak, membantu warga kurang mampu, menangani persoalan lingkungan, hingga berdialog dengan masyarakat kecil tanpa sekat.
Gaya kepemimpinan tersebut dinilai sejalan dengan filosofi Sunda “Someah hade ka semah” yang mengajarkan pentingnya keramahan, kesantunan, dan penghormatan kepada masyarakat.
Tidak hanya itu, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Dedi Mulyadi juga disebut sangat tinggi. Berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia pada awal 2026, tingkat kepuasan publik di Jawa Barat mencapai 95,5 persen, menjadikannya salah satu kepala daerah dengan tingkat kepuasan tertinggi di Indonesia.
Sementara itu, Sherly Tjoanda dipandang membawa nuansa kepemimpinan yang menenangkan dan penuh semangat persaudaraan. Ia dikenal aktif membangun komunikasi lintas kelompok masyarakat serta menekankan pentingnya pelayanan publik yang humanis.
Nilai tersebut dianggap sejalan dengan filosofi Maluku Utara, “Marimoi Ngone Futuru, Masidika Ngone Foruru,” yang berarti bersatu kita kuat dan bercerai kita runtuh.
Sejumlah pengamat sosial menilai, masyarakat Indonesia saat ini tengah merindukan figur pemimpin yang benar-benar hadir di tengah rakyat, bukan sekadar tampil dalam pencitraan politik semata.
“Rakyat sebenarnya tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin didengar dan diperhatikan,” ujar Kefas Hervin Devananda atau Romo Kefas, jurnalis sekaligus penggiat budaya.
Ia menilai, apabila lebih banyak kepala daerah memiliki kepedulian serupa, pembangunan di Indonesia akan bergerak lebih cepat.
“Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang sering hilang adalah keteladanan,” katanya.
Menurutnya, kepemimpinan yang ideal bukanlah tentang kekuasaan, melainkan pengabdian kepada masyarakat.
Filosofi Jawa “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” dinilai masih relevan hingga saat ini, yakni pemimpin harus mampu menjadi teladan, membangun semangat, dan memberi dorongan bagi rakyat.
Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat, kehadiran pemimpin yang mau turun langsung ke lapangan dinilai menjadi kebutuhan penting.
Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang ingin dilayani dengan fasilitas dan protokoler berlebihan. Rakyat hanya ingin pemimpin yang mau turun tangan, mendengar, dan bekerja nyata untuk kehidupan mereka.
Karena di mata rakyat, jabatan bisa berakhir kapan saja, tetapi keteladanan akan selalu dikenang sepanjang masa.
Penulis: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas) Jurnalis Pewarna Indonesia, Penggiat Budaya, dan Aktivis 98.










