KDM: Pembangunan Infrastruktur Harus Selaras dengan Sejarah dan Alam

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 14 Mei 2026 - 13:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

Mata Pena News – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa pembangunan di Jawa Barat harus kembali memperhatikan nilai sejarah, budaya, dan kondisi alam lingkungan sekitar. Menurutnya, pembangunan yang mengabaikan akar peradaban justru berpotensi menimbulkan kerusakan tata ruang dan lingkungan.

Pernyataan tersebut disampaikan Dedi usai menghadiri Diskusi Kecagarbudayaan bertajuk Prasasiti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang digelar di Museum Pajajaran Batutulis, Kamis (14/5/2026).

Dalam forum tersebut, Dedi menilai peninggalan sejarah bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan bagian penting dari identitas dan arah pembangunan daerah di masa depan. Karena itu, ia mendorong adanya kajian akademik yang mendalam terhadap seluruh situs sejarah di Jawa Barat.

Baca Juga:  BKPSDM Kota Bogor Tindaklanjuti Dugaan Pungli CPNS, ASN Berinisial S Terancam Sanksi Berat

“Situs dan peninggalan sejarah harus didokumentasikan secara ilmiah. Harus ada buku dan kajian lengkap yang menjelaskan sejarah, makna, hingga relevansinya terhadap pembangunan masa depan,” ujarnya.

Ia juga mengkritisi pola pembangunan modern yang dinilai semakin menjauh dari karakter budaya dan kondisi geografis wilayah. Akibatnya, banyak pembangunan yang justru menimbulkan persoalan lingkungan.

Menurut Dedi, penataan ruang harus menjadi prioritas utama sebelum pembangunan dilakukan. Ia mencontohkan longsor yang terjadi di Jalan Saleh Danasasmita, kawasan Batutulis, sebagai dampak dari kesalahan tata ruang.

Baca Juga:  Serap Aspirasi Warga, Pemdes Kemujan Gelar Ngopi Bareng Bahas Pariwisata Hingga Pusat Kuliner

“Kawasan yang seharusnya menjadi area hijau malah dijadikan jalan. Akibatnya keseimbangan alam terganggu dan terjadi longsor,” katanya.

Dedi menegaskan, kawasan yang memiliki nilai sejarah seharusnya dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau agar tetap menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus melindungi warisan budaya.

Ke depan, ia meminta seluruh pembangunan infrastruktur, mulai dari jalan, jembatan hingga irigasi, dirancang dengan mempertimbangkan lanskap sejarah dan kondisi alam setempat.

“Pembangunan tidak boleh merusak identitas wilayah. Infrastruktur harus dibangun selaras dengan sejarah, budaya, dan alam,” tegasnya.

Red

Red

Berita Terkait

BKPSDM Kota Bogor Tindaklanjuti Dugaan Pungli CPNS, ASN Berinisial S Terancam Sanksi Berat
52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!
Kepala Diskarpus Jepara dan Camat Karimunjawa Dampingi Bunda Literasi Serahkan Bantuan untuk PAUD Mutiara Hati Kemujan
Bank Kota Bogor Gandeng BAM, Perluas Akses Pembiayaan Pedagang Pasar Jambu Dua
Gebyar Hari Santri 2026 Jepara, Kolaborasi Pemkab, Kemenag, IDI, TNI, PCNU dan BAZNAS
Perumda Pasar Tohaga Gelar LDK, Perkuat Kepemimpinan dan Profesionalisme Pegawai
Hari Pelanggan Nasional 2026, Tirta Kahuripan Apresiasi Pelanggan Setia dengan Lima Sepeda Motor dan Voucher Belanja
HUT ke-62 Golkar, DPD Berau Ziarah ke TMP dan Siapkan Agenda Sosial untuk Masyarakat
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:16 WIB

BKPSDM Kota Bogor Tindaklanjuti Dugaan Pungli CPNS, ASN Berinisial S Terancam Sanksi Berat

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:49 WIB

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:44 WIB

Kepala Diskarpus Jepara dan Camat Karimunjawa Dampingi Bunda Literasi Serahkan Bantuan untuk PAUD Mutiara Hati Kemujan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bank Kota Bogor Gandeng BAM, Perluas Akses Pembiayaan Pedagang Pasar Jambu Dua

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:59 WIB

Perumda Pasar Tohaga Gelar LDK, Perkuat Kepemimpinan dan Profesionalisme Pegawai

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB