Redaksi Berkisah, Tragedi 10 Muharam, Gugurnya Sayyidina Husain di Karbala
Mata Pena News –
Oleh: Rudi Irawan
Pembaca yang dirahmati Allah SWT,
Pada setiap tanggal 10 Muharam, umat Islam memperingati hari yang dikenal sebagai Asyura. Di balik berbagai keutamaan yang terdapat pada hari tersebut, sejarah Islam juga mencatat sebuah peristiwa yang sangat memilukan, yakni gugurnya cucu Rasulullah SAW, Husain bin Ali, dalam tragedi Karbala.
Peristiwa yang terjadi pada 10 Muharam 61 Hijriah (680 Masehi) itu menjadi salah satu babak paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Sayyidina Husain, putra dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra, gugur bersama keluarga dan para pengikutnya di Padang Karbala, wilayah yang kini berada di Irak.
Kisah bermula ketika Husain menolak memberikan baiat kepada pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Penolakan tersebut didasari keyakinannya bahwa kepemimpinan harus dijalankan dengan prinsip keadilan, amanah, dan sesuai ajaran Islam yang diwariskan Rasulullah SAW.
Dalam perjalanan menuju Kufah, rombongan Husain dihadang oleh pasukan yang jauh lebih besar. Mereka kemudian dikepung di Karbala dan mengalami kesulitan mendapatkan akses air selama beberapa hari. Meski berada dalam kondisi yang sangat berat, Husain dan para pengikutnya tetap bertahan pada prinsip yang diyakini.

Pada hari Asyura, pertempuran yang tidak seimbang itu berakhir dengan gugurnya Sayyidina Husain beserta sejumlah anggota keluarga dan sahabatnya. Tragedi tersebut meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam dan dikenang sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan serta mempertahankan kebenaran.
Bagi umat Islam, khususnya dalam tradisi sejarah Islam, Karbala bukan sekadar kisah peperangan. Peristiwa ini menjadi pelajaran tentang keberanian, keteguhan iman, pengorbanan, dan komitmen terhadap nilai-nilai keadilan, meskipun harus menghadapi risiko yang sangat besar.
Hingga kini, nama Sayyidina Husain tetap dikenang sebagai sosok yang mempertahankan prinsip dan kehormatan agama. Keteladanan beliau menjadi inspirasi bagi generasi Muslim untuk selalu menegakkan kebenaran, menjunjung keadilan, serta menjaga persatuan umat.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk diambil hikmah dan pelajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Dalam Hormat- Tim Redaksi











