Mutiara Hikmah BES : KEADILAN DI ATAS KEBENCIAN: WUJUD KESEMPURNAAN ISLAM DALAM BERBANGSA DAN BERNEGARA
Mata Pena News-
Ahad, 14 Juni 2026
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
QS. An-Nisa Ayat 135
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰى اَنْ تَعْدِلُوْاۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Mengetahui terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”
Selanjutnya Allah berfirman:
QS. Al-Ma’idah Ayat 8
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۚ اِعْدِلُوْاۚ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Menurut Brother Eggi Sudjana (BES), kedua ayat tersebut merupakan fondasi utama tegaknya keadilan dalam Islam. Keduanya menunjukkan bahwa keadilan harus berdiri di atas semua kepentingan, baik kepentingan pribadi, keluarga, golongan, kekuasaan maupun kebencian.
BES menegaskan bahwa seseorang tidak akan mampu berlaku adil apabila masih dikuasai rasa benci, dendam, fanatisme kelompok, ataupun kepentingan politik. Karena itu Al-Qur’an secara tegas memerintahkan umat Islam agar menjadikan keadilan sebagai standar utama dalam setiap keputusan dan tindakan.
Dari sinilah muncul pertanyaan besar mengenai makna kesempurnaan Islam sebagaimana firman Allah:
QS. Al-Ma’idah Ayat 3
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا
Artinya:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
Menurut BES, kesempurnaan Islam tidak hanya mencakup urusan ibadah ritual, tetapi juga menghadirkan prinsip-prinsip kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan sesama manusia, hingga tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dalam kehidupan bernegara, nilai-nilai Islam menempatkan keadilan sebagai panglima. Tidak boleh ada diskriminasi hukum berdasarkan kekayaan, jabatan, kedekatan politik maupun perbedaan pandangan. Semua warga negara harus memperoleh perlakuan yang sama di hadapan hukum.
Islam juga mengajarkan musyawarah, amanah, perlindungan terhadap kaum lemah, pemberantasan kezaliman, distribusi kesejahteraan yang berkeadilan, serta tanggung jawab moral para pemimpin terhadap rakyat yang dipimpinnya.
Berkaitan dengan pertanyaan apakah Islam dapat menjadi ideologi yang mengatur masyarakat dan negara, BES berpandangan bahwa Islam memiliki seperangkat nilai, prinsip dan pedoman hidup yang lengkap. Islam bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai tata kehidupan sosial, ekonomi, hukum dan pemerintahan.
Namun inti dari semua itu adalah terwujudnya keadilan sebagaimana diperintahkan Allah dalam Al-Qur’an. Sebab tanpa keadilan, kekuasaan hanya akan melahirkan kezaliman, dan tanpa keadilan hukum akan kehilangan maknanya.
Karena itu, pesan utama dari QS. An-Nisa ayat 135 dan QS. Al-Ma’idah ayat 8 adalah bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa dipengaruhi rasa suka ataupun benci. Keadilan yang demikianlah yang akan mengantarkan manusia kepada ketakwaan dan menjadi bukti nyata kesempurnaan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
“I‘dilû, huwa aqrabu lit-taqwâ” — Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.
Salam Jihad
Brother Eggi Sudjana (BES)











