Jepara | Mata Pena Newa – Sebuah pemandangan unik sekaligus menyejukkan hati bisa ditemui di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Di tengah perkampungan yang sejuk di lereng Gunung Muria, berdiri sebuah masjid dan Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) saling berhadapan. Keduanya hanya dipisahkan jalan desa selebar tiga meter.
Meski berbeda keyakinan, warga Desa Tempur hidup rukun dan penuh toleransi. Mayoritas penduduk beragama Islam, sementara sebagian memeluk Kristen. Namun perbedaan itu tak pernah menimbulkan sekat. Sebaliknya, setiap kali hari besar tiba, warga kerap saling membantu dan ikut merayakan.
“Kalau ada Natal, umat Islam ikut membantu persiapan. Begitu juga saat Idul Fitri, saudara-saudara Kristen datang bersilaturahmi,” ujar salah seorang warga.
Keakraban itu menjadikan masjid dan gereja di Desa Tempur bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol perdamaian yang kerap menarik perhatian wisatawan. Banyak pengunjung sengaja datang untuk mengabadikan momen kerukunan yang jarang ditemui di tempat lain.
Toleransi dan saling menghormati menjadi kunci utama harmoni di desa ini. Desa Tempur seakan memberi pesan sederhana: perbedaan agama bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk hidup berdampingan dengan damai.
Yuda










