Redaksi Berkisah,
Sahabat Rasulullah SAW,
Said bin Zaid Pembala Kebenaran, Sang Laki-Laki Surga
Oleh : Rudi Irawan
Pembaca yang di Rahmati Allah SWT Mata PenaNews masih Mengisahkan para sahabat Rosululloh SAW yang di jamin Masuk Surga Berikut kisah nya hari ini
untuk melihat sejarah sahabat Nabi Yang Benama Said bin Zaid berikut kisahnya :
Dalam lorong-lorong sejarah Islam yang agung, ada satu nama yang mungkin tak banyak disebut, namun langit telah mencatatnya dengan tinta kehormatan: Said bin Zaid.
Ia bukan hanya seorang sahabat Nabi—ia adalah salah satu dari “al-‘asyarah al-mubassharin bil jannah”, sepuluh orang yang dijanjikan surga ketika mereka masih hidup. Namun, Said tak pernah jumawa. Langkahnya tenang, suaranya pelan, dan hidupnya jauh dari gemerlap.
Ayahnya, Zaid bin Amr bin Nufail, adalah pria yang berdiri sendiri di tengah padang jahiliyah. Ia menolak menyembah berhala, menyendiri dari arus penyembahan patung, dan menangisi penduduk Mekah yang tersesat. Zaid wafat sebelum sempat bertemu Rasulullah, namun jejak keimanannya diwarisi penuh oleh putranya—Said bin Zaid.
Said masuk Islam sejak awal dakwah, sembunyi-sembunyi bersama sang istri, Fatimah binti Khattab. Di saat banyak orang mencaci Rasulullah, mereka justru mengikrarkan keimanan dengan keyakinan teguh.
Suatu hari, rumah mereka digedor oleh Umar bin Khattab, yang saat itu masih dalam keinginan membunuh Muhammad SAW. Ketika membaca lembaran Al-Qur’an yang sedang dibaca Fatimah dan Said, hatinya luluh. Said menjadi saksi keislaman salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Islam.
Meski memiliki kedekatan dengan kekuasaan—Umar adalah iparnya, para sahabat mengenalnya sebagai sosok yang menjauh dari politik dan duniawi. “Aku tak ingin terikat dengan dunia yang cepat sirna,” katanya. Tapi di medan jihad, Said adalah prajurit tangguh. Ia ikut dalam Perang Yarmuk dan penaklukan Syam, namun namanya jarang ditulis besar. Ia selalu memilih diam di balik layar, cukup Allah yang tahu.
Salah satu kisah paling terkenal adalah ketika seorang wanita Quraisy menuduhnya merampas tanah. Dengan penuh kesabaran, Said berdoa, “Ya Allah, jika dia dusta, timpakanlah azab-Mu.” Tak lama, wanita itu buta, jatuh ke dalam sumur dan meninggal. Doa seorang yang teraniaya dijawab dengan cepat oleh langit.
Said bin Zaid wafat dalam kesederhanaan, tanpa istana, tanpa mahkota, tapi dengan nama yang harum di bumi dan dijanjikan tempat di surga. Di dunia ia tidak menuntut pujian, di akhirat ia diganjar kemuliaan.
Said bin Zaid wafat pada tahun 671 M, di usia sekitar 70-an tahun, di Aqiq, dekat Madinah. Ia dimakamkan di sana, dan jasadnya dishalatkan oleh Sa’id bin Al-Ash.
Salam hormat,
Tim Redaksi MatapenaNews










