Indonesia Kaya Sumber Daya Tidak Perlu Takut Menghadapi Perang Global

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 6 April 2026 - 14:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Catatan Dr. Suriyanto Pd, SH.,MH.,M.Kn

Jakarta | Mata Pena News – Indonesia kaya sumber daya alam (SDA) dan memiliki posisi strategis untuk menghadapi ketidakpastian global, termasuk potensi konflik, potensi ekonomi dan geopolitik. Indonesia memiliki cadangan nikel, batu bara, gas alam, serta hasil kelautan dan pertanian yang melimpah, menjadikannya pemain kunci di pasar internasional.

 

Pada situasi perang global yang sangat mengguncang ketakutan akan rantai pasok energi, selalu muncul pertanyaan di semua kalangan tentang ketahanan energi, apakah Indonesia perlu takut dengan situasi ini, sementara kekayaan alamnya berupa, tambang, migas, hutan, laut dan lahan pertanian sangat melimpah, jawabannya tidak ada yang perlu ditakutkan tetapi Pemerintah tidak boleh lengah.

 

Kekayaan alam Indonesia memberikan tiga penyangga utama, yaitu Energi primer seperti produksi migas domestik, cadangan batu bara yang melimpah, dan potensi panas bumi, tenaga surya, tenaga angin, serta hidro terbesar yang berada di Sumatera hingga Papua. Berikut ada juga material kritis seperti nikel, bauksit, tembaga dan timah, juga bahan baku baterai dan elektrifikasi global yang kini telah diproduksi dan dikelola di dalam negeri, dengan program besar Hilirisasi. Berikut tatanan pangan global dan bioenergi seperti, Sawit, Tebu, Singkong dan juga ditopang dengan lahan pertanian yang luas dan melimpah juga sangat subur sekaligus dapat menopang program Biodisel dan Bioetanol yang juga sekaligus dapat menjaga ketersediaan kalori Nasional.

Baca Juga:  Diduga Oknum Polisi Terlibat Mafia Solar Subsidi di Pantura Jateng, Mahasiswa Desak Penindakan Tegas

 

Kekayaan tambang dan hasil pertanian menjadikan Indonesia berpotensi mandiri dalam energi dan pangan, mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang rentan terganggu saat terjadi perang.

 

Kekayaan alam yang diperkirakan bernilai ratusan ribu triliun rupiah dapat dikelola untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional jika dikelola dengan benar. Dengan nikel terbesar dunia, Indonesia adalah aktor penting dalam rantai pasok global untuk teknologi hijau dan baterai kendaraan listrik. Dalam situasi konflik, negara yang menguasai bahan mentah vital memiliki daya tawar tinggi.

 

Hal ini menjadi fondasi kuat dalam menghadapi guncangan harga minyak dunia akibat gangguan penutupan selat hormuz maupun embargo teknologi atau peningkatan tarif pajak AS yang tak masuk akal tidaklah serta merta secara otomatis melumpuhkan kita sebagai bangsa besar yang juga memiliki pasar yang besar. Tetapi jelas Pemerintah harus paham bahwa pondasi tidak sama dengan benteng.

Stabilitas tentu membutuhkan kebijakan yang kongkrit tidak hanya sekedar suara, guna untuk dapat mempertebal cadangan energi yang nyata seperti BBM,LPG dan Avtur, juga harus dapat memperbesar pengelolaan sendiri, dan juga menyiapkan penambahan tangki timbun dipelabuhan yang strategis. Juga mempersiapkan skenario logistik alternatif dan kongkrit tentang Diversifikasi Impor, percepatan pembangunan proyek hulu, dan peningkatan lifting harus jalan beriringan dengan akselerasi EBT, PLTS, atap ladang surya, PLTB, panas bumi dan semua harus dilaksanakan dengan integritas tinggi para pemangku jabatan membantu Presiden.

Baca Juga:  Hari Terakhir Ops Ketupat Candi 2026, Polres Jepara Siagakan Personel di Obyek-Obyek Wisata

 

Disisi lain dalam situasi darurat energi ini dalam pemberian subsidi dan kompensasi harus tepat sasaran berbasis data dan kongkrit untuk rakyat dalam situasi ini, agar harga ditingkat tatanan rakyat bawah terjaga tetapi tidak menjebol ketahanan fiskal, program peningkatan umkm juga harus jelas, juga pada industri karena semua membutuhkan energi listrik yang kompetitif.

 

Saat ini di luar negeri diplomasi energi indonesia sangat pragmatis jangan terjebak pada blok dan juga harus membuka kerjasama energi dengan negara lain selain timur tengah hal ini harus dilakukan agar tidak ketergantungan pada satu kutub politik dalam menghadapi situasi global yang tidak menentu saat ini.

 

Intinya dengan kekuatan besar pasar domestik dan kekayaan alam yang juga melimpah Indonesia memiliki kekuatan energi untuk rakyat dan memiliki modal untuk bertahan menghadapi perang global,

Yang terpenting Pemerintah Pusat dan Daerah dapat bersinergi dalam melaksanakan percepatan eksekusi pada pelaksanaan hilirisasi energi yang konsisten dan memiliki cadangan yang cukup, serta kebijakan yang kuat, tepat sasaran

Serta adaptif. Jika perang global terus mengguncang dunia namun stabilitas Ekonomi dan Energi Indonesia akan tetap terjaga. Semua tergantung kebijakan cepat dan tepat Pemerintah.

*) Praktisi Hukum, Akademisi, Ketua Umum DPP Persatuan Wartawan Republik Indonesia

Berita Terkait

Ketua KONI Kabupaten Bogor Mundur Jelang Porprov Jabar 2026
Isu Perebutan Kursi Ketum NasDem Menguat, Posisi Surya Paloh Disebut Mulai Tertekan
Halal Bihalal Kecamatan Bogor Timur Bersama Insan Pers, Perkuat Sinergi dan Silaturahmi
Pelantikan Ketua RT dan RW Desa Cijujung Periode 2026–2031
Krisis Iklim di Hari Nelayan, Peneliti UPER Ungkap Rapuhnya Ketahanan Ekonomi Warga Pesisir
Kemana Perginya Triliunan Kekayaan Alam Indonesia? Menelisik 5 Tanda Kehancuran Negara Menurut Prof. Eggi Sudjana
Ratusan Pendidik Ikuti Pelatihan Kurikulum Adab di Depok
Halal Bihalal Warga Surya Praja Permai, Hangatkan Kebersamaan dan Perkuat Ukhuwah
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 16:53 WIB

Ketua KONI Kabupaten Bogor Mundur Jelang Porprov Jabar 2026

Rabu, 15 April 2026 - 05:44 WIB

Isu Perebutan Kursi Ketum NasDem Menguat, Posisi Surya Paloh Disebut Mulai Tertekan

Senin, 13 April 2026 - 18:33 WIB

Halal Bihalal Kecamatan Bogor Timur Bersama Insan Pers, Perkuat Sinergi dan Silaturahmi

Senin, 13 April 2026 - 12:54 WIB

Pelantikan Ketua RT dan RW Desa Cijujung Periode 2026–2031

Senin, 13 April 2026 - 11:42 WIB

Krisis Iklim di Hari Nelayan, Peneliti UPER Ungkap Rapuhnya Ketahanan Ekonomi Warga Pesisir

Berita Terbaru