Kota Bogor | Mata Pena News – Rencana pembangunan jalan baru menuju kawasan Batutulis, Kota Bogor, menuai penolakan dari sejumlah budayawan. Mereka menilai lahan yang akan dibangun termasuk dalam kawasan Cagar Budaya sehingga perlu dijaga dari aktivitas yang berpotensi merusak nilai historisnya.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menegaskan bahwa pemerintah tetap membuka ruang dialog bagi seluruh aspirasi masyarakat, termasuk kelompok budayawan.
Namun, ia mengingatkan agar diskusi dilakukan secara proporsional dan tetap menghargai nilai-nilai budaya Sunda, khususnya yang berlaku di Kota Bogor.
“Aspirasi boleh saja. Pemerintah Kota Bogor juga tidak ingin gegabah, semuanya tetap diperhitungkan,” ujar Dedie di Bogor, Jumat (14/11/2025).
Menurut Dedie, pemerintah mengambil alih proses pembebasan lahan untuk memastikan penataan yang lebih baik. Sebelumnya, lahan tersebut merupakan milik pribadi dan bebas dimanfaatkan pemiliknya. Namun, setelah diambil alih, pemerintah berencana memanfaatkan sebagian lahan itu sebagai akses jalan baru dengan lebar sekitar 12 meter
.
Dedie menjelaskan bahwa pembangunan jalan baru merupakan kebutuhan mendesak setelah Jalan Saleh Danasasmita mengalami longsor pada Maret 2025 lalu. Kerusakan itu memutus akses warga di Kecamatan Bogor Selatan dan berdampak pada kegiatan ekonomi serta mobilitas harian masyarakat.
“Tidak usah jadi polemik. Kepentingan masyarakat harus kita dahulukan. Bukan berarti pemerintah tidak mendengar, pemerintah mah mendengar. Dialog tetap dilakukan, tapi sesuai nilai-nilai kebogoran,” katanya.
Menanggapi usulan budayawan agar jalan dibangun mengikuti jalur eksisting, Dedie menyebut hal tersebut tidak memungkinkan karena sisa lebar jalur lama hanya sekitar 2,5 meter, sehingga tidak layak dilalui kendaraan.
Ia menekankan bahwa keputusan
pembangunan jalan baru didasarkan pada kajian teknis serta regulasi yang berlaku, bukan atas keinginan pribadi ataupun instansi tertentu.
Red










