Redaksi Berkisah: Peristiwa 10 Muharam dan Diterimanya Taubat Nabi Adam AS
Oleh: Rudi Irawan
Pembaca setia Media Mata Pena News yang dirahmati Allah SWT, bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam.
Tanggal 10 Muharam yang dikenal sebagai Hari Asyura menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Salah satu kisah yang banyak diceritakan oleh para ulama adalah diterimanya taubat Nabi Adam AS oleh Allah SWT.
Hari ini Redaksi berkisah tentang kisah taubat Nabi Adam AS tetap menjadi pelajaran agung tentang kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya yang sungguh-sungguh bertaubat.
Awal Mula Ujian Nabi Adam AS
Nabi Adam AS merupakan manusia pertama yang diciptakan Allah SWT. Setelah menciptakan Adam, Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud sebagai bentuk penghormatan kepada makhluk ciptaan-Nya tersebut. Peristiwa ini dijelaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun sujud kecuali Iblis; ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir.”
(QS. Al-Baqarah: 34)
Allah SWT kemudian menempatkan Nabi Adam AS dan istrinya, Siti Hawa, di surga. Mereka diperbolehkan menikmati segala kenikmatan yang ada, kecuali mendekati satu pohon yang telah Allah larang.
Allah SWT berfirman:
“Dan Kami berfirman, ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat apa saja yang ada di sana sesukamu, tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.'”
(QS. Al-Baqarah: 35)
Namun Iblis yang telah bersumpah untuk menyesatkan manusia terus menggoda Nabi Adam AS dan Siti Hawa hingga keduanya melanggar larangan Allah SWT.
Turun ke Bumi dan Penyesalan yang Mendalam
Setelah memakan buah dari pohon yang dilarang, Nabi Adam AS dan Siti Hawa menyadari kesalahan mereka. Berbeda dengan Iblis yang membangkang dan menyalahkan pihak lain, Nabi Adam AS justru mengakui kesalahannya dengan penuh kerendahan hati.
Allah SWT berfirman:
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah: 37)
Dalam penyesalannya, Nabi Adam AS memanjatkan doa yang sangat masyhur dan menjadi salah satu doa taubat yang dianjurkan untuk diamalkan umat Islam:
“Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.”
Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A’raf: 23)
Doa tersebut mencerminkan ketulusan seorang hamba yang menyadari kekhilafannya dan berharap sepenuhnya kepada ampunan Allah SWT.
Allah SWT Menerima Taubat Nabi Adam AS
Kasih sayang Allah SWT jauh lebih besar daripada murka-Nya. Ketika Nabi Adam AS memohon ampun dengan penuh keikhlasan, Allah SWT menerima taubat beliau dan memberikan petunjuk untuk menjalani kehidupan di bumi.
Allah SWT berfirman:
“Kemudian Tuhannya memilih dia (Adam), maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.”
(QS. Thaha: 122)
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa sebesar apa pun kesalahan manusia, pintu taubat tidak pernah tertutup selama hayat masih dikandung badan dan seseorang benar-benar menyesali perbuatannya.
Hikmah Besar di Balik Kisah Nabi Adam AS
Kisah Nabi Adam AS mengandung banyak pelajaran bagi umat Islam, terutama pada momentum bulan Muharam.
Pertama, manusia tidak luput dari kesalahan. Nabi Adam AS sebagai manusia pertama pun pernah melakukan kekhilafan. Namun yang membedakan seorang mukmin adalah kesediaannya mengakui kesalahan dan segera kembali kepada Allah SWT.
Kedua, Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Sebagaimana firman-Nya:
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ketiga, kesombongan adalah sumber kehancuran. Iblis terusir dari rahmat Allah karena kesombongannya, sedangkan Nabi Adam AS mendapatkan ampunan karena kerendahan hatinya.
Momentum Muharam untuk Muhasabah
Bulan Muharam merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Momentum ini hendaknya dijadikan sarana introspeksi diri, memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, serta meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.
Kisah Nabi Adam AS mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Namun, setiap manusia memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik melalui taubat yang tulus dan amal saleh yang berkelanjutan.
Semoga kisah Nabi Adam AS ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak istighfar, dan tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Salam Hormat
Tim Redaksi











