SPPG Bondongan Segera Beroperasi, Warga Keluhkan Minimnya Pelibatan Tenaga Lokal
BOGOR | Mata Pena News – Kelurahan Bondongan bersiap mengoperasikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada pertengahan April 2026. Program yang menyasar kelompok prioritas ini masih dalam tahap awal, menyusul pelaksanaan sosialisasi kepada masyarakat.
Lurah Bondongan, Yanti Maryanti, mengatakan bahwa operasional SPPG tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui sejumlah tahapan, termasuk perekrutan dan pelatihan relawan.
“Untuk dimulainya sekitar pertengahan April. Saat ini masih tahap sosialisasi. Tidak langsung launching karena ada proses perekrutan relawan dan pelatihan sebelum mereka mulai bekerja,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masyarakat yang berminat menjadi relawan dapat mendaftar melalui kantor kelurahan atau di wilayah RW 07. Rencananya, dua unit SPPG akan dibangun di kawasan tersebut. Satu unit telah hampir rampung, sementara satu lainnya masih dalam tahap pembangunan.
SPPG yang hampir selesai itu berada di bawah naungan Yayasan Mutiara Gizi Nasional yang dipimpin oleh pakar gizi, Prof. Tani Kusila. Program ini difokuskan pada kelompok “3B”, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Pemerintah kelurahan menilai kehadiran SPPG akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan gizi kelompok rentan.
“Alhamdulillah sangat bermanfaat, terutama untuk balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Harapannya kebutuhan gizi mereka terpenuhi sehingga anak-anak dapat tumbuh optimal,” kata Yanti.
Namun, di tengah antusiasme tersebut, muncul keluhan dari warga terkait minimnya pelibatan tenaga kerja lokal dalam program tersebut.
Sejumlah warga mengaku kecewa setelah mengetahui komposisi relawan yang dinilai lebih banyak berasal dari luar wilayah.
“Informasinya sekitar 70 persen dari luar dan hanya 30 persen warga sini. Itu yang membuat warga merasa tidak dilibatkan,” ujar salah satu perwakilan warga.
Kondisi tersebut bahkan sempat memicu aksi protes dari masyarakat setempat.
“Awalnya kami sangat mendukung. Tapi setelah tahu soal itu, warga jadi merasa tidak dihargai,” tambahnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah pelamar mencapai sekitar 76 orang. Setelah melalui proses seleksi, sekitar 40 orang dipersiapkan untuk terlibat dalam operasional.
Namun, dengan keterbatasan kuota bagi warga lokal, dikhawatirkan hanya sebagian kecil yang akan terserap.
Warga berharap ke depan ada evaluasi terhadap kebijakan perekrutan tenaga kerja agar program tidak hanya berdampak pada peningkatan kesehatan, tetapi juga mampu mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar
“Programnya bagus, kami mendukung. Tapi harapannya warga sekitar juga bisa lebih banyak dilibatkan,” tutup warga.
(Amri Suherman)











