Jepara, | Mata Pena News – Pelaksanaan program MBG kembali menjadi perhatian publik setelah muncul dugaan tidak tersalurkannya manfaat kepada ribuan siswa di Kecamatan Jepara dan Tahunan, Kabupaten Jepara, pada Rabu (1/4).
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa para siswa di kedua kecamatan tersebut tidak menerima manfaat program karena kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Kebijakan pembelajaran jarak jauh ini berkaitan dengan agenda halal bihalal di lingkungan sekolah, sehingga aktivitas tatap muka untuk sementara ditiadakan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan dan respons Satuan Tugas (Satgas) MBG dalam mengantisipasi perubahan situasi di lapangan. Sejumlah pihak menilai, penyaluran manfaat program seharusnya tetap dapat dilakukan melalui mekanisme alternatif meskipun
pembelajaran berlangsung secara daring.
“Situasi seperti ini seharusnya sudah dapat diprediksi dan diantisipasi. Jika tidak, wajar publik mempertanyakan efektivitas pelaksanaan program,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Program MBG yang dibiayai oleh anggaran negara dinilai perlu dikelola secara transparan, akuntabel, dan adaptif terhadap dinamika di lapangan. Oleh karena itu, masyarakat mendorong adanya evaluasi menyeluruh guna memastikan program berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Sejumlah kalangan juga mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan langkah korektif, termasuk kemungkinan penghentian sementara program apabila ditemukan ketidaksesuaian dalam pelaksanaannya.
Opsi pengalihan anggaran ke sektor yang lebih mendesak juga menjadi bagian dari wacana yang berkembang.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan kendala dalam penyaluran program tersebut.
Yuda










