Di tulis oleh:Arif Martha Radhian.
Jakarta | Mata Pena News – Tokoh pemuda dan sekaligus pengusaha yang aktif di berbagai kegiatan sosial dan budaya
Arif Martha Radhian, mengutuk keras insiden serangan dua hari berturut-turut di Lebanon selatan yang menewaskan tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tengah menjalankan misi perdamaian dunia di bawah bendera PBB. Peristiwa tragis ini menambah daftar panjang korban dalam konflik yang terus memanas di kawasan tersebut, sekaligus menjadi peringatan serius bagi perlindungan pasukan penjaga perdamaian internasional.
“Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Dunia tidak boleh diam melihat prajurit yang membawa misi kemanusiaan justru menjadi korban konflik bersenjata, Saya mengutuk keras setiap bentuk kekerasan terhadap pasukan penjaga perdamaian,” tegas Arif Martha Radhian di Jakarta, Rabu (01 Maret 2026).
Arif Martha Radhian menjelaskan, insiden gugurnya tiga prajurit TNI terjadi dalam dua peristiwa terpisah dalam kurun waktu 24 jam. Berdasarkan laporan misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), dua prajurit TNI tewas akibat ledakan yang menghancurkan kendaraan mereka di wilayah Bani Hayyan, Lebanon selatan. Sementara satu prajurit lainnya gugur sehari sebelumnya akibat serangan artileri yang menghantam lokasi kontingen Indonesia yang berada di Kota Adshit al-Qusyar. Selain korban jiwa, dua personel lainnya mengalami luka, satu di antaranya dalam kondisi serius.
“Keberadaan pasukan perdamaian seharusnya dilindungi oleh semua pihak. Ketika mereka menjadi target, maka itu mencerminkan kegagalan kolektif dalam menjaga komitmen terhadap perdamaian dunia,” jelas nya.
ini menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. PBB sendiri telah menyatakan bahwa tindakan semacam itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang, mengingat mandat pasukan UNIFIL adalah menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi konflik di sepanjang perbatasan Lebanon–Israel.
“Menyerang pasukan perdamaian sama saja merusak fondasi perdamaian dunia. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi bentuk nyata pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan,”
Arif Martha Radhian juga memaparkan, konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah kembali meningkat sejak awal Maret 2026, memicu intensitas serangan di wilayah Lebanon selatan. Dalam situasi tersebut, pasukan UNIFIL, termasuk kontingen Indonesia, berada di garis depan untuk menjaga gencatan senjata dan melindungi warga sipil. Namun, meningkatnya eskalasi membuat posisi mereka semakin rentan terhadap serangan tidak terduga.
“Indonesia harus mendorong investigasi internasional yang transparan dan menyeluruh atas insiden ini. Pelaku harus dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum internasional,”
“Pengorbanan para prajurit TNI ini tidak boleh sia-sia. Negara harus hadir memberikan penghormatan terbaik, sekaligus memastikan perlindungan maksimal bagi seluruh personel yang masih bertugas di daerah konflik,” pungkas nya.
Jks










