Mata Pena News – Lonjakan wisatawan di kawasan pesisir utara Jawa menjadi ujian nyata kesiapsiagaan keselamatan publik. Di Pantai Kartini hingga penyeberangan menuju Pulau Panjang, kolaborasi antara relawan, aparat, dan pemerintah daerah menjadi benteng utama mencegah insiden di tengah euforia libur panjang.
Pada Selasa (24/3/2026), Relawan Gerak Cepat Tanpa Sambat (GCTS) turun langsung sejak pagi hingga sore hari, menyisir titik-titik keramaian, dermaga, hingga jalur perahu penyeberangan. Fokus utama mereka jelas: memastikan keselamatan pengunjung tidak dikorbankan oleh kelalaian.
Di lapangan, relawan tak sekadar mengawasi. Mereka aktif mengedukasi wisatawan agar disiplin menggunakan jaket pelampung, standar keselamatan yang kerap diabaikan saat volume penumpang meningkat. Imbauan dilakukan berulang, bahkan dalam kondisi padat, demi menekan risiko kecelakaan laut.
“Kami tidak ingin ada kejadian yang bisa dicegah tapi justru terabaikan. Keselamatan harus jadi prioritas, bukan formalitas,” tegas Ketua GCTS, Akip.
Yang menarik, pengamanan ini bukan kerja satu pihak. GCTS bergerak dalam koordinasi lintas sektor bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Jepara melalui Pusdalops. Model kolaborasi ini mencerminkan pendekatan terpadu yang kini semakin krusial di destinasi wisata berisiko.
Kepala Pelaksana BPBD Jepara, Arwin, menegaskan bahwa keberadaan relawan menjadi faktor penguat dalam sistem mitigasi daerah.
“Relawan dari berbagai komunitas sangat membantu pemerintah, terutama dalam kebencanaan dan kedaruratan. Saat libur bersama seperti sekarang, mereka justru berada di garis depan, siaga di titik-titik wisata,” ujarnya.
Fenomena ini memperlihatkan wajah lain dari pengelolaan wisata nasional: keselamatan bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi hasil kerja kolektif antara aparat dan masyarakat sipil. Di tengah meningkatnya mobilitas domestik, potensi risiko, mulai dari overkapasitas perahu hingga kelalaian penggunaan alat keselamatan akan menjadi ancaman nyata yang tak bisa diabaikan.
Jepara memberi contoh bahwa pencegahan lebih murah daripada penanganan. Kehadiran relawan seperti GCTS bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari sistem perlindungan publik.
Di tengah riuh liburan, satu pesan disuarakan keras di pesisir utara Jawa: wisata boleh ramai, tapi keselamatan tidak boleh ditawar.
Wakib











