Krisis Iklim di Hari Nelayan, Peneliti UPER Ungkap Rapuhnya Ketahanan Ekonomi Warga Pesisir

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 13 April 2026 - 11:42 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mata Pena News – Momentum peringatan Hari Nelayan Nasional yang baru saja berlalu meninggalkan catatan penting bagi masa depan sektor maritim Indonesia.

Di balik seremonial tahunan, data lapangan justru menunjukkan potret buram: sekitar 30,2 juta warga pesisir kini berada dalam ancaman nyata akibat perubahan iklim (BPS, 2022). Tanpa langkah mitigasi yang konkret, kerugian ekonomi sektor perikanan di zona ekonomi eksklusif Indonesia diprediksi bakal merosot hingga 26 persen pada tahun 2050 (IPCC, 2022).

Kondisi kritis ini tercermin nyata dalam hasil penelitian terbaru tim akademisi Universitas Pertamina di Teluk Aru, Kalimantan Selatan, yang diketuai oleh Ita Musfirowati Hanika dari Program Studi Komunikasi. Kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan pakar dari bidang Teknik Logistik,

 

Hubungan Internasional, serta Manajemen ini membedah bagaimana wilayah yang merupakan salah satu pusat perikanan tangkap terbesar di Kalimantan Selatan dengan potensi 98.000 ton per tahun tersebut, kini justru menjadi saksi bisu perjuangan nelayan tradisional melawan ketidakpastian alam.

Ita Musfirowati Hanika mengungkapkan bahwa dampak perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi akademis, melainkan gangguan nyata pada kalender melaut.

Dok: Tim peneliti Universitas Pertamina saat melakukan wawancara mendalam dengan nelayan di Teluk Aru, Kalimantan Selatan.
Dok: Tim peneliti Universitas Pertamina saat melakukan wawancara mendalam dengan nelayan di Teluk Aru, Kalimantan Selatan.

“Hasil kajian kami menunjukkan bahwa perubahan iklim di Teluk Aru telah menjadi realitas yang memaksa nelayan berhenti melaut akibat cuaca ekstrem yang tak menentu dan hilangnya kepastian lokasi tangkapan akibat anomali migrasi ikan,” papar Ita.

Baca Juga:  Sekretaris DPN Jamkeswatch FSPMI Heri Irawan Sosialisasikan JKN kepada Bidang Perempuan PUK SPEE FSPMI PT Honoris Industry

Lebih lanjut, Ita menjelaskan bahwa ketidakpastian ini merusak tatanan hidup masyarakat pesisir. “Musim Barat yang seharusnya tiga bulan kini bisa molor hingga lima bulan karena perputaran angin yang tak lagi bisa ditebak. Pergeseran pola musim ini membuat pengetahuan lokal yang selama ini dipegang nelayan turun-temurun menjadi tidak lagi relevan,” tambahnya.

Ita juga menekankan pentingnya komunikasi risiko yang tepat, “Kami menemukan bahwa meski nelayan sadar akan risiko, mereka tidak memiliki kanal informasi cuaca yang cukup presisi untuk mendukung keputusan mereka setiap hari.”

Realitas di akar rumput kian mempertegas urgensi temuan tersebut. Lahudina (74), salah satu nelayan senior di Teluk Aru, menuturkan bagaimana ketidakpastian alam telah menggerus kesejahteraan mereka

Dok: Warga pesisir Teluk Aru bekerja sama mengupas kepiting hasil tangkapan. Penelitian Universitas Pertamina menyoroti pentingnya diversifikasi pengolahan hasil laut sebagai jaring pengaman ekonomi saat musim paceklik melanda.
Dok: Warga pesisir Teluk Aru bekerja sama mengupas kepiting hasil tangkapan. Penelitian Universitas Pertamina menyoroti pentingnya diversifikasi pengolahan hasil laut sebagai jaring pengaman ekonomi saat musim paceklik melanda.

“Tahun ini cuaca tidak menentu, penghasilan nelayan sedang ‘sakit’. Pernah saya memancing semalaman cuma dapat satu ekor ikan, dijual cuma Rp35.000, padahal ongkos sekali jalan saja sudah Rp100.000.Kami tidak dapat untung, malah tombok,” ungkapnya getir.

Kondisi serupa dialami Pak Kaswin, nelayan yang kini terpaksa beralih profesi menjadi petani cengkeh karena laut tak lagi memberi kepastian ekonomi.

Dipublikasikan secara internasional melalui IOP Conference Series: Earth and Environmental Science serta Dinasti International Journal of Education Management and Social Science (DIJEMSS), riset ini memaparkan realitas ancaman kedaulatan pangan di pesisir.

Baca Juga:  Atasi Kekeringan, PKK Jepara Bersama BPBD Salurkan 4.000 Liter Air Bersih ke Desa Banjaran

Selain mencatat kenaikan permukaan laut 3,5 mm per tahun dan penurunan tangkapan hingga 15%, studi ini menyoroti jeratan ekonomi nelayan di mana biaya operasional Rp300.000 sekali melaut kini sering kali melampaui pendapatan mereka.

Melalui pendekatan perilaku (HBM) dan ketahanan hidup (SLF), riset ini menyimpulkan bahwa nelayan sebenarnya memiliki kesadaran tinggi untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

Namun, niat tersebut memerlukan dukungan tambahan agar hambatan keterbatasan akses dan modal dapat teratasi. Tim peneliti merekomendasikan agar kebijakan makro yang sudah ada saat ini dapat diperkuat dengan program yang lebih menyentuh

Kebutuhan teknis di lapangan. Hal ini mencakup kemudahan akses pembiayaan untuk modifikasi perahu yang lebih aman serta bantuan teknologi tepat guna yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh para nelayan kecil.

Menutup rangkaian refleksi Hari Nelayan ini, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU, menegaskan komitmen institusi untuk terus mengawal isu ini.

“Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan solusi nyata atas tantangan keberlanjutan masyarakat pesisir. Penelitian lintas disiplin ini adalah langkah konkret kami dalam menjembatani temuan akademik dengan kebutuhan mendesak nelayan di akar rumput demi menjaga kedaulatan maritim Indonesia,” pungkas Prof. Wawan.

Irawan

Berita Terkait

tes
BURUH GERUDUK KANTOR LPSK JATIM! JAMKESWATCH FSPMI DESAK KEPASTIAN BIAYA PENGOBATAN KORBAN PENGANIAYAAN MOJOKERTO
HIPMI Bogor, Bekasi, dan Depok Gelar Business Matching, Libatkan 150 Pengusaha Muda
Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan
POTENSI WISATA DESA IKONIK BISA MATI JIKA DSPARBUD TUTUP MATA
H.M Saifudaulah SH.MH.M.Pd.I ,Dari PKS(partai keadilan sejahtera)Serap Aspirasi Warga RW 06 kelurahan jati Waringin, Soroti Masalah Banjir dan drainase.
Rekrut Tenaga Ahli Bergelar Profesor, Jamaludin Malik Terlibat Adu Komentar dengan Akun Info Jepara Terkini
Sekretaris DPN Jamkeswatch FSPMI Heri Irawan Sosialisasikan JKN kepada Bidang Perempuan PUK SPEE FSPMI PT Honoris Industry
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:49 WIB

tes

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:35 WIB

BURUH GERUDUK KANTOR LPSK JATIM! JAMKESWATCH FSPMI DESAK KEPASTIAN BIAYA PENGOBATAN KORBAN PENGANIAYAAN MOJOKERTO

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:36 WIB

HIPMI Bogor, Bekasi, dan Depok Gelar Business Matching, Libatkan 150 Pengusaha Muda

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:05 WIB

Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:32 WIB

POTENSI WISATA DESA IKONIK BISA MATI JIKA DSPARBUD TUTUP MATA

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB