BOGOR | Mata Pena News – Tidak semua perjalanan aktivis dimulai dari panggung besar. Sebagian justru tumbuh dari kesederhanaan lingkungan pendidikan, proses panjang menimba ilmu, perjumpaan dengan para tokoh, hingga pengalaman berorganisasi yang mengajarkan arti perjuangan dan pengabdian.
Gambaran itulah yang mewarnai perjalanan Subhan Murtadla, S.Ag., M.E., sosok yang menapaki dunia pergerakan melalui pendidikan pesantren, pengalaman akademis, organisasi kemasyarakatan, dan keterlibatan dalam berbagai aktivitas sosial.
Bagi Subhan, idealisme bukan sekadar rangkaian kata yang lantang disuarakan. Nilai tersebut perlu dijaga melalui sikap, diperkuat dengan pengetahuan, dan dibuktikan lewat kerja nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Perjalanan panjangnya menjadi gambaran tentang bagaimana pendidikan, pergaulan intelektual, dan pengalaman organisasi dapat membentuk cara pandang seseorang terhadap umat, bangsa, dan tanggung jawab sosial.
Darul Fallah, Tempat Nilai Perjuangan Mulai Bersemi
Perjalanan Subhan dalam dunia pendidikan dan pengabdian memiliki salah satu titik penting di Pesantren Pertanian Darul Fallah. Pada periode 1990–1997, ia belajar sekaligus mengabdi di lingkungan pesantren yang memadukan pendidikan Islam dengan pertanian dan pemberdayaan masyarakat.
Selama tujuh tahun, lingkungan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran hidupnya. Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu, tetapi juga tentang membangun kemandirian, memahami kehidupan masyarakat, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Dalam perjalanan itu, Subhan berkesempatan bertemu dengan Mohammad Natsir dan KH. Sholeh Iskandar, dua tokoh yang disebut sebagai pendiri Pesantren Pertanian Darul Fallah.
Pertemuan dengan tokoh-tokoh tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang memperkaya perjalanan intelektual dan sosialnya. Bagi seorang yang tumbuh dalam tradisi pendidikan dan pengabdian, pengalaman semacam itu dapat membuka perspektif tentang hubungan antara ilmu, kepemimpinan, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Darul Fallah pun menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Subhan memahami bahwa perubahan tidak cukup dibangun melalui gagasan, tetapi membutuhkan ketekunan, kemandirian, dan kesediaan untuk terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat.
Perjumpaan dengan Tokoh, Memperluas Cakrawala Pergerakan
Dunia pergerakan mempertemukan Subhan dengan beragam pemikiran, pengalaman, dan dinamika perjuangan. Ia menyebut pernah berinteraksi dengan sejumlah tokoh, di antaranya H. M.S. Kaban, Eggi Sudjana, dan Ahmad Sumargono.
Perjumpaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang memperluas pemahamannya mengenai organisasi, gerakan Islam, kehidupan kebangsaan, dan persoalan sosial.
Aktivisme memang tidak selalu memberikan jawaban sederhana terhadap berbagai persoalan. Di dalamnya terdapat perbedaan pandangan, proses dialog, tantangan menjaga konsistensi, serta tuntutan untuk memahami kebutuhan masyarakat secara lebih mendalam.
Dalam konteks itu, pengalaman berinteraksi dengan berbagai tokoh menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi Subhan untuk melihat pergerakan dari beragam sudut pandang.
Sebab, seorang aktivis tidak cukup hanya memiliki semangat. Ia juga membutuhkan keluasan wawasan, kemampuan berdialog, keteguhan prinsip, dan kematangan dalam menyikapi perbedaan.
Menguatkan Fondasi Keilmuan di UIKA Bogor
Selain pengalaman di pesantren dan organisasi, perjalanan Subhan juga diwarnai pendidikan di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor serta pembelajaran agama di Pesantren Mahasiswa Ulil Albab.
Di lingkungan Pesantren Mahasiswa Ulil Albab, ia menimba ilmu agama bersama KH. Didin Hafidhuddin, ulama dan akademisi yang dikenal dalam dunia pendidikan Islam.
Subhan juga menyebut pernah bertemu dengan AM Saifuddin dalam lingkungan akademis dan pendidikan Islam.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan intelektual yang mempertemukan pembelajaran formal dengan tradisi keilmuan Islam. Keduanya memiliki peran penting dalam membangun cara pandang yang tidak hanya bertumpu pada pengetahuan, tetapi juga mempertimbangkan nilai moral dan tanggung jawab sosial.
Bagi seorang yang aktif dalam pergerakan, ilmu menjadi bekal untuk memahami persoalan secara lebih utuh. Sementara itu, nilai keagamaan dapat menjadi landasan dalam menempatkan perjuangan sebagai bagian dari tanggung jawab kepada sesama.
Perjalanan pendidikan tersebut turut mewarnai proses Subhan dalam membangun perspektif tentang pentingnya keseimbangan antara pemikiran, prinsip, dan tindakan.
Syarikat Islam dan Jalan Pengabdian kepada Masyarakat
Perjalanan Subhan berlanjut melalui keterlibatannya dalam organisasi Syarikat Islam dan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Dalam ruang organisasi, gagasan mengenai kemandirian umat, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi menemukan relevansinya dengan persoalan yang dihadapi masyarakat. Nilai-nilai tersebut membutuhkan kerja bersama agar tidak berhenti sebagai cita-cita.
Keterlibatan Subhan dalam kegiatan sosial dan pengelolaan zakat juga berkaitan dengan upaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.
Zakat, dalam konteks pemberdayaan, bukan semata-mata tentang penyaluran bantuan. Pengelolaannya juga berkaitan dengan amanah, kepercayaan, ketepatan sasaran, dan harapan agar masyarakat dapat memperoleh dukungan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Di sinilah pengabdian memperoleh makna yang lebih luas. Perjuangan tidak hanya berbicara tentang gagasan besar, tetapi juga tentang bagaimana menjawab kebutuhan nyata masyarakat melalui kerja yang terarah dan berkelanjutan.
Bagi perjalanan seorang aktivis, ruang sosial menjadi tempat untuk menguji sejauh mana idealisme dapat diterjemahkan menjadi kepedulian dan tindakan.
Idealisme Bukan Sekadar Slogan
Perjalanan panjang dalam pendidikan, pergaulan intelektual, dan organisasi membawa satu pelajaran penting: idealisme membutuhkan konsistensi.
Semangat perjuangan dapat tumbuh dari berbagai pengalaman, tetapi mempertahankannya memerlukan integritas, kedisiplinan, kesediaan belajar, serta kemampuan bekerja bersama orang lain.
Pengalaman Subhan Murtadla di Pesantren Pertanian Darul Fallah, lingkungan pendidikan UIKA Bogor dan Pesantren Mahasiswa Ulil Albab, interaksi dengan sejumlah tokoh, hingga keterlibatannya dalam Syarikat Islam dan kegiatan sosial, merupakan bagian dari rangkaian perjalanan tersebut.
Tentu, setiap perjalanan memiliki tantangan dan proses yang tidak selalu mudah. Namun, nilai sebuah perjuangan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh seseorang melangkah, melainkan juga oleh manfaat yang dapat dihadirkan melalui peran dan pengabdiannya.
Pendidikan harus membuka jalan bagi kemajuan. Organisasi harus menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi. Sementara itu, pengabdian sosial perlu menghadirkan kepedulian yang dapat dirasakan masyarakat.
Merawat Perjuangan, Menjaga Harapan
Kisah Subhan Murtadla merupakan potret perjalanan yang bertaut antara pendidikan, pemikiran, pergerakan, dan pengabdian. Dari lingkungan pesantren hingga ruang organisasi, setiap fase memberikan pengalaman yang ikut membentuk pandangannya terhadap kehidupan bermasyarakat.
Di tengah perubahan zaman, dunia pergerakan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Persoalan pendidikan, kesenjangan ekonomi, kemandirian masyarakat, dan kebutuhan memperkuat solidaritas sosial menuntut lebih dari sekadar retorika.
Diperlukan gagasan yang matang, organisasi yang sehat, integritas yang terjaga, dan kerja nyata yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Pada titik inilah idealisme menemukan ujian sesungguhnya: apakah nilai-nilai yang diyakini mampu bertahan dalam proses panjang dan diwujudkan menjadi sesuatu yang bermanfaat?
Bagi Subhan Murtadla, perjalanan pergerakan dan pengabdian merupakan proses yang terus berjalan. Menjaga prinsip, memperluas pengetahuan, merawat persaudaraan, dan memperjuangkan kemaslahatan umat menjadi bagian dari ikhtiar yang relevan untuk terus dilanjutkan.
Sebab, perjuangan yang bermakna bukan hanya meninggalkan jejak perjalanan, melainkan juga membuka jalan bagi tumbuhnya harapan dan hadirnya manfaat bagi umat, bangsa, serta generasi mendatang.
Mata Pena News | Profil Tokoh














