BOGOR | MATA PENA NEWS – Stadion Utama Pakansari, Kabupaten Bogor, menjadi panggung bagi ribuan pesepak bola muda dari berbagai penjuru Indonesia. Sebanyak 2.500 pemain yang tergabung dalam 200 klub dari 30 provinsi ambil bagian dalam National Grassroot Indonesia Championship 4 yang berlangsung pada 27–30 Oktober 2026.
Ajang ini tidak sekadar menjadi arena perebutan kemenangan. Bagi para pemain usia dini, kesempatan berlaga di stadion utama memberikan pengalaman baru sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi di dunia sepak bola.
Dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor turut mewarnai penyelenggaraan kompetisi tersebut. Bupati Bogor Rudy Susmanto memberikan izin penggunaan Stadion Utama Pakansari agar para peserta dapat merasakan atmosfer pertandingan di lapangan yang menjadi salah satu fasilitas olahraga kebanggaan Kabupaten Bogor.
Rudy mengatakan, pengalaman seperti ini penting untuk menumbuhkan mimpi dan semangat anak-anak dalam menekuni sepak bola sejak usia dini.
Menurutnya, para peserta sebelumnya berkompetisi di lapangan latihan Stadion Pakansari. Namun, pemerintah daerah kemudian memberikan kesempatan kepada mereka untuk menggunakan stadion utama sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan olahraga.
“Tadinya mereka melakukan kompetisi di lapangan latihan Stadion Pakansari, tapi kami Pemerintah Kabupaten Bogor mengizinkan untuk menggunakan Stadion Utama Pakansari karena anak-anak ini harus dimotivasi,” ujar Rudy saat meninjau pertandingan, Selasa (27/10/2026).
Hujan Tak Surutkan Antusiasme Peserta
Dalam kunjungannya, Rudy menyaksikan langsung semangat para pemain yang datang dari berbagai daerah, termasuk Bengkulu dan Pati. Peserta dari kelompok usia sembilan hingga 13 tahun tampak memperoleh kesempatan untuk merasakan pengalaman bertanding di fasilitas olahraga bertaraf profesional.
Rudy berharap pengalaman tersebut dapat menjadi penyemangat bagi para pemain muda untuk terus berlatih, meningkatkan keterampilan, dan berani memasang cita-cita menjadi pemain sepak bola profesional.
“Anak-anak usia 9 tahun, 13 tahun, mereka menggunakan lapangan yang digunakan oleh pemain-pemain profesional, lalu menggunakan fasilitas yang sama dengan pemain-pemain profesional, supaya motivasi dan semangatnya semakin bangkit untuk memajukan olahraga sepak bola di Indonesia,” tuturnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para orang tua yang hadir mendampingi anak-anak mereka meskipun cuaca kurang bersahabat.
Bagi Rudy, kompetisi sepak bola usia dini harus menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Hasil pertandingan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan karena sportivitas, persahabatan, dan kegembiraan dalam bermain juga merupakan bagian penting dari pembentukan karakter atlet muda.
“Antara lawan, kawan, menang, kalah, hal biasa, semua dengan sukacita,” katanya.
Empat Kelompok Usia Unjuk Kemampuan
Pembina Grassroot Indonesia, Rike Iskandar, mengungkapkan bahwa kompetisi tahun ini melibatkan sekitar 2.500 pemain dari 200 klub yang mewakili 30 provinsi.
Pertandingan dibagi ke dalam empat kelompok usia, yakni U-9, U-10, U-11, dan U-13. Rangkaian kegiatan berlangsung selama empat hari, dengan partai final dijadwalkan pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Rike menilai kesempatan tampil di Stadion Utama Pakansari memberikan pengalaman yang berkesan bagi para peserta. Dukungan pemerintah daerah, menurutnya, turut memberikan dorongan moral bagi anak-anak untuk terus menekuni olahraga sepak bola.
“Pak Bupati memberikan harapan, memberikan semangat, motivasi buat para peserta grassroots ini yang anak-anak kecil,” ujar Rike.
Ia menambahkan, kejuaraan ini juga menjadi kesempatan bagi pemain lokal Kabupaten Bogor untuk mengukur kemampuan mereka ketika berhadapan dengan peserta dari kota, kabupaten, dan provinsi lain.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat membuka wawasan para pemain muda mengenai kualitas permainan, persaingan, serta pentingnya pembinaan yang berkelanjutan.
Talenta Lokal Diharapkan Mendapat Pembinaan Lanjutan
Lebih jauh, Rike berharap kompetisi National Grassroot Indonesia Championship 4 dapat menjadi salah satu pintu bagi lahirnya pesepak bola berbakat dari Kabupaten Bogor.
Ia mendorong agar pemain yang menunjukkan potensi dapat memperoleh pembinaan lanjutan melalui KONI Kabupaten Bogor dan Askab PSSI Kabupaten Bogor.
“Pokoknya intinya ke depannya mereka bisa menjadi pemain sepak bola dari Bogor yang dibina oleh KONI Kabupaten Bogor, di bawah Askab tentunya,” pungkasnya.
Penyelenggaraan kejuaraan ini menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap pembinaan sepak bola sejak usia dini. Dengan kompetisi yang terarah, dukungan keluarga, fasilitas yang memadai, serta pembinaan berkesinambungan, talenta muda diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan melangkah menuju jenjang sepak bola profesional.
Reporter: Mata Pena News














