Siswa Merokok Ditampar, Kepsek Ini Dilaporkan ke Polisi dan Didemo

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 15 Oktober 2025 - 08:43 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

Mata Pena News – Apa yang terjadi bila guru cuek. “Ah, bukan anak aku, biarkan saja.” Ketika guru ingin mendisiplinkan siswa agar jangan merokok, ditampar karena saking bandelnya, apa yang terjadi? Ia dilaporkan ke polisi, lalu didemo siswanya sendiri. Inilah nasib Kepsek di Lebak. Mari kita ungkap peristiwa perih di dunia pendidikan sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Pagi itu, udara di Lebak mestinya wangi dedaunan basah. Tapi yang mengambang bukan embun, melainkan asap rokok dari jari remaja berseragam abu-abu. Di sudut halaman sekolah, di antara sapu lidi dan pot bunga plastik, seorang siswa kelas XII meniupkan kepulan kecil pemberontakan. Asap itu naik pelan, menulis kalimat yang tak tertulis di langit sekolah, “Aku bebas.”

nLalu, seperti petir menyambar dari langit moral yang penat, datanglah kepala sekolah, Dini Fitria, langkahnya cepat, wajahnya tegang, mata yang sudah bosan melihat generasi menari di atas aturan. “Kamu merokok?” tanyanya dengan nada separuh getir, separuh percaya. Sang siswa menjawab dengan senyum tipis, senyum yang lebih tajam dari silet di kantin. Ia nbilang, “Tidak, Bu.” Padahal abu masih menempel di jarinya.

Detik itu, logika dan emosi saling bertarung di dada sang pendidik. Dari peperangan batin itulah, lahir satu tamparan, bukan dari kebencian, tapi dari rasa putus asa yang terlalu lama disimpan. Plaak! Bunyi itu menggetarkan lebih dari sekadar pipi, ia menampar nurani bangsa yang sudah lama beku.

Baca Juga:  Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan

Tapi di zaman sekarang, suara tamparan bisa lebih mematikan dari suara pistol. Dalam hitungan jam, kabar itu menembus WhatsApp wali murid, merayap ke media sosial, dan membuncah jadi badai. Judul-judul berita menari-nari, “Kepsek Tampar Siswa, Dilaporkan ke Polisi!” Sementara di layar ponsel, publik berubah jadi hakim tanpa toga, menulis kutukan dengan jari yang tak pernah tahu apa rasanya menjaga 600 anak yang suka melawan.

Dini Fitria duduk di ruang kerjanya, terdiam di antara map dan laporan kegiatan. Ia bukan sedang menyesali tamparan itu, tapi sedang bertanya pada dirinya sendiri, apakah mendidik anak negeri kini harus tanpa sentuhan, tanpa teguran, tanpa emosi? Ia sudah mengajar dua puluh tahun, tapi baru kali ini sebuah tamparan terasa seperti vonis penjara.

Di sisi lain, sang siswa, ILP menjadi legenda lokal. Pipinya yang memerah mendadak jadi simbol perjuangan remaja modern, melawan otoritas, menuntut keadilan, bahkan jika kesalahan ada di dirinya sendiri. Ia mengaku ditampar dan ditendang, lalu melapor ke polisi bersama ayahnya. Dunia bersimpati. Polisi datang. Media berduyun-duyun. Di depan sekolah, spanduk besar terbentang, “Kami tak mau belajar sebelum kepala sekolah lengser!”

Baca Juga:  Atasi Kekeringan, PKK Jepara Bersama BPBD Salurkan 4.000 Liter Air Bersih ke Desa Banjaran

Ironis. 630 siswa mogok sekolah demi membela seorang perokok. Di negeri di mana buku sudah jarang dibuka, perlawanan justru dibangun dari asap rokok dan amarah remaja.

Lalu siapa yang salah? Kepala sekolah yang kehilangan sabar setelah ribuan kali menegur tanpa hasil? Ataukah murid yang merasa pipinya lebih suci dari tanggung jawabnya sebagai pelajar? Atau mungkin kita semua, bangsa yang sibuk membicarakan pendidikan, tapi melupakan maknanya?

Tamparan itu kini berubah jadi simbol zaman. Zaman di mana moral digugat, dan akal sehat dikriminalisasi. Satu tamparan kecil jadi badai besar karena kamera sempat merekam dan internet tak pernah lupa.

Di Lebak, di sebuah sekolah yang kini dijaga wartawan dan polisi, seorang guru berdiri menatap langit sore. Ia tahu, bukan siswa itu yang paling perlu dididik, tapi seluruh masyarakat yang memuja kebebasan, tapi menolak tanggung jawab.

Mungkin, tragedi sejati dari pendidikan kita bukanlah tamparan di pipi murid, tapi tamparan yang lebih halus, pada akal sehat yang sudah lama tertidur di meja guru.

 

Berita Terkait

tes
BURUH GERUDUK KANTOR LPSK JATIM! JAMKESWATCH FSPMI DESAK KEPASTIAN BIAYA PENGOBATAN KORBAN PENGANIAYAAN MOJOKERTO
HIPMI Bogor, Bekasi, dan Depok Gelar Business Matching, Libatkan 150 Pengusaha Muda
Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan
POTENSI WISATA DESA IKONIK BISA MATI JIKA DSPARBUD TUTUP MATA
H.M Saifudaulah SH.MH.M.Pd.I ,Dari PKS(partai keadilan sejahtera)Serap Aspirasi Warga RW 06 kelurahan jati Waringin, Soroti Masalah Banjir dan drainase.
Rekrut Tenaga Ahli Bergelar Profesor, Jamaludin Malik Terlibat Adu Komentar dengan Akun Info Jepara Terkini
Sekretaris DPN Jamkeswatch FSPMI Heri Irawan Sosialisasikan JKN kepada Bidang Perempuan PUK SPEE FSPMI PT Honoris Industry
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:49 WIB

tes

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:35 WIB

BURUH GERUDUK KANTOR LPSK JATIM! JAMKESWATCH FSPMI DESAK KEPASTIAN BIAYA PENGOBATAN KORBAN PENGANIAYAAN MOJOKERTO

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:36 WIB

HIPMI Bogor, Bekasi, dan Depok Gelar Business Matching, Libatkan 150 Pengusaha Muda

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:05 WIB

Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:32 WIB

POTENSI WISATA DESA IKONIK BISA MATI JIKA DSPARBUD TUTUP MATA

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB