Perkuat Peran Perempuan Menghadapi Krisis Iklim, Duo Mahasiswi UPER Juarai PSNMHII 2026

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 22 Juni 2026 - 10:04 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta | Mata Pena News – Di balik krisis iklim, terdapat kelompok yang sering luput dari perhatian, yakni perempuan yang menghadapi dampak perubahan iklim secara tidak proporsional.

Menurut UNDP dan UN Women, tanpa kebijakan yang responsif gender, hingga 158 juta perempuan dan anak perempuan berisiko terdorong ke dalam kemiskinan pada 2050 akibat perubahan iklim.

Berangkat dari persoalan tersebut, duo mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina (UPER), Zeffanya Tessalonika Manoppo dan Paskarina Alfalahsea, menyusun sebuah policy brief yang menawarkan model kerja sama antara Indonesia dan negara-negara Pasifik untuk memperkuat peran perempuan dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Gagasan tersebut dituangkan dalam karya berjudul Mendayung Bersama di Lautan yang Sama: Kerja Sama Selatan-Selatan Indonesia–Pasifik dalam Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Berperspektif Gender.

Dokumentasi: Zeffanya Tessalonika Manoppo (kiri) dan Paskarina Alfalahsea (kanan), mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina, menerima trofi Juara I kategori Chamber Policy Brief pada Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) ke-38 Tahun 2026 di Bandung.
Dokumentasi: Zeffanya Tessalonika Manoppo (kiri) dan Paskarina Alfalahsea (kanan), mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina, menerima trofi Juara I kategori Chamber Policy Brief pada Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) ke-38 Tahun 2026 di Bandung.) 

Melalui policy brief tersebut, keduanya mengusulkan pembentukan Indonesia-Pacific Climate and Gender Partnership (IPCGP) sebagai kerangka kemitraan yang memperkuat kolaborasi Indonesia dan negara-negara Pasifik dalam menghadapi krisis iklim.

Gagasan ini berangkat dari kesamaan karakter Indonesia dan negara-negara Pasifik sebagai wilayah kepulauan yang sama-sama rentan terhadap kenaikan muka air laut, degradasi ekosistem pesisir,

Serta ancaman terhadap kehidupan masyarakat pesisir. Indonesia dinilai memiliki modal yang kuat melalui pengalaman pengelolaan wilayah pesisir, kebijakan Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN-GPI) 2024–2030, Blue Economy Roadmap, serta berbagai praktik baik pemberdayaan perempuan yang dapat menjadi referensi dalam memperkuat ketahanan iklim di kawasan Pasifik.

Baca Juga:  Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan

 

Atas gagasan tersebut, Zeffanya dan Paskarina berhasil meraih Juara I kategori Chamber Policy Brief pada Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) ke-38 Tahun 2026 di Bandung yang diikuti oleh 31 tim dari 31 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

 

Menurut Zeffanya, perempuan memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kedekatan dengan komunitas yang menjadikan mereka aktor penting dalam membangun ketahanan iklim. Karena itu, pelibatan perempuan perlu menjadi bagian dari proses penyusunan hingga implementasi kebijakan.

 

“Perempuan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lahir dari kedekatan mereka dengan komunitas. Perspektif tersebut perlu hadir sejak proses perencanaan hingga pengambilan keputusan agar kebijakan iklim menjadi lebih inklusif dan efektif,” ujar Zeffanya.

 

Sebagai implementasi, IPCGP mengusulkan dua program unggulan. Program pertama, Gender-Climate Fellowship, berfokus pada peningkatan kapasitas perempuan di negara-negara Pasifik dalam pembiayaan iklim dan tata kelola wilayah pesisir.

Baca Juga:  BURUH GERUDUK KANTOR LPSK JATIM! JAMKESWATCH FSPMI DESAK KEPASTIAN BIAYA PENGOBATAN KORBAN PENGANIAYAAN MOJOKERTO

Program kedua, Mangrove & Coastal Adaptation Pilot, merupakan proyek restorasi ekosistem pesisir berbasis komunitas perempuan yang menargetkan pemulihan 500 hektare kawasan mangrove dalam tiga tahun sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.

 

Menurut Paskarina, kedua program tersebut dirancang agar perempuan tidak hanya terlibat sebagai peserta, tetapi juga memiliki ruang untuk memengaruhi arah pembangunan di tingkat komunitas.

 

“Kami menargetkan sedikitnya 40 persen keterlibatan perempuan dalam struktur pengambilan keputusan pada proyek restorasi pesisir. Harapannya, perempuan memiliki ruang yang lebih besar untuk berkontribusi dalam menentukan arah pembangunan yang tangguh terhadap krisis iklim,” kata Paskarina.

 

Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, M.Si., mengapresiasi capaian tersebut sebagai bukti bahwa mahasiswa Universitas Pertamina mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan terhadap tantangan global.

 

“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Pertamina tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan global, tetapi juga menghadirkan solusi berbasis riset yang inovatif dan aplikatif.

Universitas Pertamina akan terus mendorong lahirnya gagasan yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Prof. Djoko.

Reporter : Irawan

Berita Terkait

tes
BURUH GERUDUK KANTOR LPSK JATIM! JAMKESWATCH FSPMI DESAK KEPASTIAN BIAYA PENGOBATAN KORBAN PENGANIAYAAN MOJOKERTO
HIPMI Bogor, Bekasi, dan Depok Gelar Business Matching, Libatkan 150 Pengusaha Muda
Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan
POTENSI WISATA DESA IKONIK BISA MATI JIKA DSPARBUD TUTUP MATA
H.M Saifudaulah SH.MH.M.Pd.I ,Dari PKS(partai keadilan sejahtera)Serap Aspirasi Warga RW 06 kelurahan jati Waringin, Soroti Masalah Banjir dan drainase.
Rekrut Tenaga Ahli Bergelar Profesor, Jamaludin Malik Terlibat Adu Komentar dengan Akun Info Jepara Terkini
Sekretaris DPN Jamkeswatch FSPMI Heri Irawan Sosialisasikan JKN kepada Bidang Perempuan PUK SPEE FSPMI PT Honoris Industry
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:49 WIB

tes

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:35 WIB

BURUH GERUDUK KANTOR LPSK JATIM! JAMKESWATCH FSPMI DESAK KEPASTIAN BIAYA PENGOBATAN KORBAN PENGANIAYAAN MOJOKERTO

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:36 WIB

HIPMI Bogor, Bekasi, dan Depok Gelar Business Matching, Libatkan 150 Pengusaha Muda

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:05 WIB

Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:32 WIB

POTENSI WISATA DESA IKONIK BISA MATI JIKA DSPARBUD TUTUP MATA

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB