Mutiara Hikmah BES: “Perhatikan Apa yang Dipersiapkan untuk Hari Esok, Karena Pena Akan Menjadi Jejak Karya”
Prof.Dr.H Eggi Sudjana
BOGOR | Mata Pena News – Pesan renungan Prof. Dr. BES pada Senin, 10 Agustus 2026, mengajak umat Islam untuk melakukan muhasabah atas perjalanan hidup, khususnya tentang bagaimana waktu yang dimiliki hari ini dipergunakan sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat.
Renungan tersebut berangkat dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Dalam renungan BES, bagian yang patut menjadi perhatian adalah kalimat “wal tanzhur nafsun maa qaddamat lighad”, yakni perintah agar setiap manusia memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.
Hari esok dalam konteks ayat tersebut menjadi pengingat tentang kehidupan akhirat. Artinya, manusia tidak hanya dituntut memikirkan keberhasilan hari ini, tetapi juga harus mempersiapkan pertanggungjawaban atas seluruh amal perbuatannya.
Waktu Bukan Sekadar Angka
Pesan tersebut juga mengingatkan bahwa waktu merupakan salah satu nikmat besar yang sering terlupakan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan bersumpah dengan waktu dalam QS. Al-‘Ashr ayat 1-3:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa waktu yang berlalu tidak dapat kembali. Karena itu, nilai kehidupan bukan semata-mata diukur dari panjangnya usia, tetapi dari apa yang dilakukan selama usia tersebut.
Setiap hari pada akhirnya menjadi bagian dari sejarah kehidupan manusia.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya “Apa yang sudah kita dapat hari ini?”, tetapi juga:
“Apa yang sudah kita persiapkan untuk hari esok?”
Bekal Akhirat Tidak Harus Besar, Tetapi Harus Bernilai
Rasulullah ﷺ memberikan gambaran mengenai amal yang tetap memberikan manfaat setelah seseorang meninggal dunia.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
Hadis ini menjadi pengingat bahwa karya manusia dapat memiliki umur yang lebih panjang daripada usia pembuatnya.
Sebuah ilmu yang diajarkan, tulisan yang bermanfaat, buku yang terus dibaca, atau nasihat yang mendorong seseorang melakukan kebaikan dapat menjadi bagian dari manfaat yang terus hidup.
Namun, pahala tetap merupakan hak Allah dan tidak dapat dihitung secara matematis berdasarkan jumlah orang yang membaca sebuah tulisan.
Ketika Pena Menjadi Amanah
Renungan BES kemudian memiliki keterkaitan kuat dengan firman Allah dalam QS. Al-Qalam ayat 1:
نٓ ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”
Ayat tersebut menunjukkan betapa pentingnya pena dan aktivitas menulis dalam kehidupan manusia.
Pena dapat menyimpan ilmu, mendokumentasikan sejarah, menyampaikan informasi, membuka wawasan dan memberikan pencerahan.
Namun, pena juga merupakan amanah.
Sebab tulisan dapat memberikan manfaat, tetapi tulisan yang tidak benar juga dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain.
Karena itu, seorang penulis atau wartawan harus memahami bahwa setiap informasi yang ditulis bukan sekadar rangkaian kata, melainkan memiliki konsekuensi.
Allah Mengajarkan Manusia dengan Pena
Kedudukan pena juga disebut dalam QS. Al-‘Alaq ayat 4-5:
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ayat ini memberikan pesan bahwa pena memiliki hubungan erat dengan ilmu pengetahuan.
Melalui tulisan, pengetahuan dapat diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, karya seorang penulis tidak semestinya hanya mengejar jumlah pembaca, popularitas atau keuntungan, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai kebenaran dan kemanfaatannya.
Berita Harus Diverifikasi
Dalam dunia jurnalistik, prinsip tersebut semakin relevan dengan firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Ayat tersebut memberikan prinsip yang sangat penting bagi dunia informasi: tabayyun atau verifikasi.
Seorang wartawan tidak cukup hanya mendapatkan informasi. Informasi harus diperiksa, dikonfirmasi dan disajikan secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, mencari kebenaran bukan hanya prinsip jurnalistik, tetapi juga memiliki dimensi moral dan keagamaan.
Filosofi “MATA PENA”
Dalam konteks perkumpulan wartawan dan penulis di Bogor yang menggunakan nama MATA PENA, filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah amanah.
MATA adalah simbol melihat realitas.
PENA adalah simbol menyampaikan apa yang telah dilihat melalui tulisan.
Namun prosesnya tidak berhenti pada melihat dan menulis.
Ada tahapan penting:
Melihat → Memeriksa → Memahami → Menulis → Memberikan Manfaat.
Dengan filosofi tersebut, MATA PENA dapat menjadi simbol insan pers yang berusaha melihat persoalan masyarakat secara jernih, melakukan verifikasi terhadap informasi, kemudian menyampaikannya melalui tulisan yang bertanggung jawab.
MATA tidak boleh melihat dengan kebencian.
PENA tidak boleh menulis dengan fitnah.
MATA harus mencari fakta.
PENA harus menyampaikan kebenaran.
Dan keduanya harus dilandasi niat untuk memberikan manfaat.
Tulisan Adalah Jejak
Allah juga berfirman dalam QS. Yasin ayat 12:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ
“Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas.”
Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak hanya meninggalkan amal yang dilakukan secara langsung, tetapi juga atsar, yakni jejak atau dampak yang ditinggalkannya.
Dalam konteks karya jurnalistik, sebuah tulisan dapat menjadi jejak.
Ia dapat menjadi dokumentasi sejarah.
Ia dapat menjadi sumber pengetahuan.
Ia dapat membantu masyarakat memahami sebuah persoalan.
Tetapi sebaliknya, tulisan yang salah juga dapat meninggalkan dampak buruk.
Karena itu, seorang penulis harus berhati-hati terhadap apa yang ditorehkan melalui penanya.
“Hari Esok” Dimulai dari Hari Ini
Pada akhirnya, pesan QS. Al-Hasyr ayat 18 bukan sekadar ajakan untuk memikirkan kematian.
Ayat tersebut adalah ajakan untuk mengelola kehidupan dengan kesadaran akan pertanggungjawaban.
Hari ini adalah kesempatan.
Besok belum tentu datang.
Dan ketika kesempatan telah berlalu, manusia tidak dapat mengulang waktu yang sama.
Karena itu, setiap orang perlu melakukan muhasabah:
Apa yang saya lakukan hari ini?
Siapa yang mendapatkan manfaat dari keberadaan saya?
Ilmu apa yang saya bagikan?
Kebaikan apa yang saya tinggalkan?
Dan tulisan apa yang saya wariskan kepada orang lain?
Bagi insan pers dan penulis, pertanyaan tersebut dapat dipersempit menjadi satu pertanyaan:
“Apakah pena saya hari ini menjadi jalan kebaikan atau justru menjadi sumber kerugian bagi orang lain?”
Sebab pada akhirnya, bukan banyaknya tulisan yang menjadi ukuran utama, melainkan nilai kebenaran dan manfaat yang ditinggalkannya.
Maka filosofi MATA PENA dapat dirangkum dalam sebuah pesan:
“Mata melihat kenyataan, akal memeriksa kebenaran, pena menyampaikan informasi, hati mempertanggungjawabkannya kepada Allah.”
Dan dari QS. Al-Hasyr ayat 18 kita belajar:
“Perhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok.”
Sementara dari QS. Al-Qalam ayat 1 kita diingatkan:
“Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”
Dua ayat tersebut seakan mengajarkan bahwa apa yang kita kerjakan hari ini dan apa yang kita tuliskan hari ini dapat menjadi bagian dari bekal dan jejak kita untuk hari esok.
Salam Jihad
Prof. Dr. BES (Brother Eggi Sudjana)














