Bogor | Mata Pena News – Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI melakukan kunjungan kerja spesifik ke Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Hortikultura di Jalan Tentara Pelajar, Kota Bogor, Kamis (22/1/2026).
Kunjungan ini bertujuan meninjau berbagai inovasi dan hasil riset pertanian yang dikembangkan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian pangan nasional.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengatakan bahwa keberadaan lembaga riset dan pendidikan di Kota Bogor memiliki peran strategis dalam kemajuan sektor pertanian di Indonesia. Ia menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 50 lembaga penelitian di Kota Bogor, baik tingkat pusat, balai, badan, maupun lembaga lainnya, dengan lebih dari 4.000 tenaga ahli.
“Keberadaan lembaga-lembaga riset ini menjadi fondasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Bogor 2025–2045, yaitu mewujudkan Kota Sains yang kreatif, maju, dan berkelanjutan,” ujar Dedie dalam sambutannya.
Dedie juga menekankan bahwa tantangan sektor pertanian ke depan tidak hanya sebatas perubahan iklim (climate change), melainkan telah mengarah pada bencana iklim (climate disaster). Oleh karena itu, peran lembaga riset dinilai semakin penting untuk menghasilkan inovasi, memperkuat kemandirian pangan, serta meningkatkan daya saing pertanian nasional.
“Di sinilah peran para peneliti dan ahli untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia,” katanya.
Kunjungan kerja tersebut dipimpin oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi. Dalam kesempatan itu, rombongan Komisi IV meninjau langsung sejumlah hasil riset BRMP, mulai dari pengembangan ayam kampung unggul baru, inovasi hortikultura, teknologi pertanian modern, hingga upaya hilirisasi produk pertanian.
Siti Hediati Hariyadi mengapresiasi berbagai inovasi yang dihasilkan BRMP, khususnya ayam kampung unggul yang mampu menghasilkan hingga 250 butir telur per ekor per tahun, serta bawang berukuran besar hasil pengembangan riset hortikultura.
“Hasil penelitian seperti ini perlu terus didorong agar dapat diterapkan secara luas di seluruh Indonesia. Dengan begitu, kita bisa memperkuat swasembada telur, bawang, dan komoditas lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Komisi IV DPR RI akan mendorong penyebarluasan hasil riset pertanian agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor. Setelah swasembada beras dan jagung, komoditas lain seperti bawang dan kedelai juga diharapkan dapat diproduksi secara mandiri.
Lebih lanjut, Siti Hediati menegaskan bahwa kunjungan kerja tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPR RI untuk memastikan lembaga di sektor pertanian berjalan efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala BRMP Hortikultura, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa proses penelitian dan pengembangan varietas unggul membutuhkan waktu yang panjang. Ia mencontohkan, pengembangan satu varietas mangga unggul dapat memakan waktu hingga 10 tahun.
“Penelitian memang tidak bisa menghasilkan manfaat secara instan, tetapi merupakan investasi jangka panjang. Tanpa riset dan inovasi, kita akan terus tertinggal dan bergantung pada impor,” katanya.
Menurut Fadjry, inovasi pertanian menjadi kunci untuk mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan. Ia pun mengapresiasi dukungan Komisi IV DPR RI yang dinilai mampu memberikan semangat bagi para peneliti untuk terus menghasilkan terobosan di sektor pertanian.
Rudy














