Bogor, Jawa Barat | Mata Pena News– Polemik dualisme kepemimpinan di tubuh Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bogor mendapat sorotan dari mantan Ketua Pengurus Kecamatan KNPI Cibungbulang, Asep Bunhori, S.IP., S.H.
Asep menilai munculnya dualisme tersebut menunjukkan adanya persoalan kedewasaan dalam kepemimpinan organisasi pemuda. Hal itu disampaikannya saat menanggapi viralnya video di media sosial terkait pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) DPD KNPI Kabupaten Bogor oleh sekelompok pihak pada 7 Maret 2026 lalu.
“Ketika pemimpin tidak mampu menyatukan pemuda yang berbeda latar belakang organisasi dan pandangan, itu menjadi tanda kurangnya kedewasaan dalam kepemimpinan,” ujar Asep, Sabtu (14/3/2026).
Pria yang akrab disapa Aabun tersebut mengatakan bahwa menyatukan berbagai pemikiran dan kepentingan dalam organisasi kepemudaan memang bukan perkara mudah. Namun, menurutnya, justru di situlah letak seni kepemimpinan yang sesungguhnya.
Ia mengingatkan bahwa KNPI sejak awal dibentuk sebagai wadah berhimpunnya berbagai organisasi kepemudaan dengan latar belakang yang beragam.
“KNPI memiliki sejarah panjang sebagai laboratorium pemuda. Di dalamnya, perbedaan pendapat bukan penghalang, tetapi justru menjadi dinamika untuk mencapai tujuan bersama bagi bangsa,” katanya.
Aabun juga menyoroti fenomena dualisme yang menurutnya kerap dipicu oleh ambisi kekuasaan, termasuk perebutan sumber daya organisasi.
“Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mampu menyatukan pemuda dengan berbagai perbedaan, tetapi tetap memiliki satu tujuan. Bukan pemimpin yang hanya haus kekuasaan atau sibuk memperebutkan dana hibah,” tegasnya.
Menurutnya, konflik internal organisasi seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog terbuka antar pihak yang berselisih.
“Kalau mau duduk bersama dan berdialog, banyak persoalan yang sebenarnya bisa selesai. Kadang cukup dengan segelas kopi,” ujarnya.
Lebih jauh, Aabun menilai dinamika dualisme di tingkat daerah tidak terlepas dari persoalan kepemimpinan di tingkat pusat.
Ia menyebut kurangnya kedewasaan dalam kepemimpinan di tingkat Dewan Pengurus Pusat (DPP) turut memicu terjadinya dualisme di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, bahkan berdampak sampai ke tingkat kecamatan.
Selain menyoroti konflik organisasi, Aabun juga menekankan pentingnya peran pemuda yang kritis dalam kehidupan demokrasi.
Menurutnya, sikap kritis pemuda merupakan indikator bahwa demokrasi masih berjalan dengan sehat.
“Pemuda yang kritis adalah tanda bahwa demokrasi kita masih memiliki denyut nadi. Jika pemuda hanya diam dan selalu setuju tanpa berpikir, itu bukan regenerasi, melainkan sekadar formalitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, ruang berpikir kritis harus terus diberikan kepada generasi muda agar mereka mampu mengkaji persoalan secara ilmiah serta menghadirkan gagasan baru bagi kemajuan bangsa.
“Di organisasi seperti KNPI, sikap kritis justru membuat organisasi tetap relevan dan tidak kaku. Karena itu, dualisme yang menimbulkan permusuhan internal justru bertentangan dengan semangat KNPI,” katanya.
Aabun juga menilai banyak pemimpin nasional yang lahir dari proses panjang di KNPI karena terbiasa menghadapi dinamika organisasi dan bernegosiasi dengan berbagai kepentingan.
Ia pun mengingatkan pentingnya soliditas pemuda dalam membangun organisasi.
“Seperti pepatah mengatakan, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Jika pemuda solid, maka visi besar seberat apa pun akan terasa lebih ringan,” pungkasnya.
Red
Penulis : Red














