Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:40 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta,  | Mata Pena News  – Guru Besar Teknik Mesin Universitas Pertamina (UPER), Prof. Dr. Eng. Ir. Iman Kartolaksono Reksowardojo, M.Eng., menilai transisi otomotif Indonesia tidak bisa bertumpu pada satu teknologi. Menurutnya, Indonesia perlu menerapkan pendekatan multi-pathway, yakni memadukan kendaraan listrik, bahan bakar nabati, dan opsi lain sesuai kebutuhan tiap sektor.

 

“Meskipun kendaraan listrik memiliki peluang besar untuk berkembang di Indonesia, terutama dengan dukungan sumber daya mineral seperti nikel, Indonesia perlu memastikan agar pengembangan tersebut tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah. Nilai tambah dari pengolahan dan pengembangan teknologinya juga perlu dibangun di dalam negeri.

Karena itu, pengembangan teknologi otomotif nasional perlu menerapkan pendekatan multi-pathway, dengan membuka berbagai pilihan teknologi dan sumber energi yang disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan masing-masing sektor,” ungkap Prof. Iman saat ditemui di Universitas Pertamina (15/10/2026).

 

Prof. Iman mencontohkan, kendaraan penumpang dan sepeda motor di perkotaan lebih sesuai menggunakan tenaga listrik karena jarak tempuhnya relatif pendek dan infrastruktur pengisian daya lebih mudah dijangkau.

Sementara itu, truk, bus, dan alat berat bermesin diesel yang beroperasi jarak jauh atau di wilayah dengan infrastruktur pengisian daya terbatas dapat memanfaatkan biodiesel karena didukung oleh mesin dan jaringan distribusi bahan bakar yang sudah tersedia.

Baca Juga:  UGG Tampil di ICCIT 2026, Dosen Paparkan Riset Digitalisasi Bisnis Fotografi

 

“Untuk memenuhi kebutuhan energi yang beragam, Indonesia juga perlu mengembangkan bahan bakar nabati selain sawit, seperti jarak pagar, nyamplung, dan kemiri sunan. Namun, setiap pilihan teknologi dan sumber energi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, bukan hanya ketersediaan bahan baku atau infrastrukturnya.

 

Karena itu, diperlukan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) untuk menilai dampak lingkungan mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga penggunaannya,” jelas Prof. Iman.

 

Arah itu sejalan dengan perubahan di pasar. Penjualan kendaraan listrik (EV) naik dari 99.111 unit pada 2024 menjadi 150.452 unit pada 2025 (Goodstat, 2026). Namun, EV bukan satu-satunya jalur, sebab Indonesia juga mengembangkan biodiesel B50, yaitu campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan 50 persen solar.

Sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki bahan baku potensial untuk jalur ini, tetapi penerapannya tetap perlu didukung kesiapan teknologi kendaraan.

 

“Penggunaan B50 membutuhkan pengujian dan penyesuaian pada mesin kendaraan agar dapat bekerja dengan baik. Begitu pula dengan bahan bakarnya, yang harus memenuhi standar dan kebutuhan mesin. Karena itu, penerapan B50 memerlukan kerja sama antara produsen kendaraan, produsen bahan bakar, masyarakat, dan pemerintah,” jelas Prof. Iman.

Baca Juga:  UGG Tampil di ICCIT 2026, Dosen Paparkan Riset Digitalisasi Bisnis Fotografi

 

Selain sawit, Indonesia juga memiliki potensi bahan bakar nabati dari tanaman lain, seperti jarak pagar, nyamplung, dan kemiri sunan. Namun, Prof. Iman menekankan bahwa setiap pilihan energi, termasuk kendaraan listrik dan biodiesel, perlu mempertimbangkan dampak lingkungan melalui pendekatan Life Cycle Assessment (LCA). Penilaian ini mencakup seluruh proses, mulai dari penyediaan bahan baku, produksi, hingga penggunaan energi, untuk memastikan transisi otomotif benar-benar lebih ramah lingkungan.

Menanggapi hal ini, Rektor UPER, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menyebut tantangan Indonesia bukan sekadar mengelola sumber daya energinya, tetapi juga kapabilitas talenta untuk mengembangkannya.

 

“Memastikan generasi yang akan datang memiliki kompetensi dalam mengembangkan teknologi, meningkatkan nilai tambah sumber daya, serta membangun industri energi yang berkelanjutan menjadi hal yang krusial.

Melalui penguatan peminatan Renewable Energy pada Program Studi Teknik Mesin UPER, diharapkan dapat semakin memperkuat kapasitas talenta dalam memahami, mengembangkan, dan mengimplementasikan teknologi energi terbarukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” ungkap Prof. Ichsan.

Irawan

Berita Terkait

UGG Tampil di ICCIT 2026, Dosen Paparkan Riset Digitalisasi Bisnis Fotografi
Lewat Riset Hidrogen, Mahasiswa UPER Sabet Juara 1 Young Scientist Competition 2026
Lantik Lebih dari 1.700 Mahasiswa Baru, UPER Siapkan Talenta Strategis Masa Depan
Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada
Pakar UPER Soroti Komunikasi di Tengah Gempa NTT, Apa yang Perlu Diperkuat?
Hadapi Variasi Ukuran Produk Tekstil, Mahasiswa UPER Rancang Alat Bantu Quality Control
Ratusan Anak TK dan KB Ikuti Lomba Mewarnai HUT ke-81 RI di Lawang Wetan
Mutiara Hikmah Eggi Sudjana: Istiqomah, Syukur Kemerdekaan RI, dan Pertanyaan Besar soal SDA Indonesia
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:40 WIB

Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik

Jumat, 25 September 2026 - 06:55 WIB

UGG Tampil di ICCIT 2026, Dosen Paparkan Riset Digitalisasi Bisnis Fotografi

Rabu, 23 September 2026 - 15:11 WIB

Lewat Riset Hidrogen, Mahasiswa UPER Sabet Juara 1 Young Scientist Competition 2026

Selasa, 15 September 2026 - 07:55 WIB

Lantik Lebih dari 1.700 Mahasiswa Baru, UPER Siapkan Talenta Strategis Masa Depan

Kamis, 10 September 2026 - 08:41 WIB

Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB