Mutiara Hikmah BES: Allah Menciptakan Manusia dalam Sebaik-Baik Bentuk, Jagalah dengan Iman, Ilmu, Amanah, dan Keadilan
Mata Pena News
Selasa, 7 Juli 2026
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Laqad khalaqnal-insāna fī ahsani taqwīm.
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
Dalam Mutiara Hikmah kali ini, Brother Eggi Sudjana (BES) mengajak umat Islam untuk merenungkan makna “ahsani taqwim”, yakni bahwa Allah menciptakan manusia dengan bentuk, akal, hati, dan potensi yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya.
Namun Allah juga mengingatkan pada ayat berikutnya:
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
Ṡumma radadnāhu asfala sāfilīn. Illallażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti falahum ajrun gairu mamnūn.
“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putus.” (QS. At-Tin: 5–6)
Menurut BES, manusia akan tetap berada pada derajat mulia apabila mampu menjaga potensi yang Allah berikan dengan keimanan, ilmu, amanah, dan ketakwaan.
Empat Anugerah dan Empat Pendampingnya
1. Akal harus disertai dengan ketaatan kepada Allah.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Innamā yakhsyallāha min ‘ibādihil-‘ulamā’.
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS. Fatir: 28)
Akal merupakan nikmat besar. Namun tanpa ketaatan kepada Allah, akal dapat membawa manusia kepada kesombongan dan penyimpangan.
2. Amal kebaikan harus disertai dengan ilmu.
Allah berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Qul hal yastawillażīna ya’lamūna wallażīna lā ya’lamūn.
“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'” (QS. Az-Zumar: 9)
Menurut BES, amal yang dilakukan tanpa ilmu berisiko tidak sesuai tuntunan syariat.
3. Kebahagiaan harus disertai dengan rasa takut kepada Allah.
Allah berfirman:
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
Wa liman khāfa maqāma rabbihī jannatān.
“Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga.” (QS. Ar-Rahman: 46)
Rasa takut kepada Allah menjadi pengendali agar kebahagiaan dunia tidak melalaikan manusia dari kehidupan akhirat.
4. Jabatan harus disertai dengan amanah dan keadilan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا ۖ وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
Innallāha ya’murukum an tu’addul-amānāti ilā ahlihā wa iżā ḥakamtum bainan-nāsi an taḥkumū bil-‘adl.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
BES menegaskan bahwa jabatan bukanlah kehormatan semata, melainkan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Mengakhiri renungannya, BES mengajak seluruh umat Islam untuk senantiasa bermuhasabah dan menjaga seluruh nikmat yang Allah berikan agar tetap berada di jalan keimanan dan amal saleh.
“Manusia telah Allah ciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Tugas kita adalah menjaga kemuliaan itu dengan iman, ilmu, ketaatan, amanah, dan keadilan agar memperoleh ridha Allah SWT.”
Wallahu a’lam bish-shawab.
Salam Jihad BES ( Brodher Eggi Sudjana)














