KOTA BOGOR, MATA PENA NEWS – Setelah cukup lama tidak menggelar pertunjukan wayang tradisional,
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kembali menghadirkan pagelaran seni budaya di halaman Balai Kota Bogor.
Perayaan Hari Wayang Nasional tersebut berlangsung meriah dengan antusiasme masyarakat yang memadati lokasi acara.
Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi Pemkot Bogor dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya melestarikan dan memperkenalkan kembali warisan budaya Nusantara kepada masyarakat.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengungkapkan bahwa pagelaran wayang di Balai Kota menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali tradisi pertunjukan seni budaya yang telah lama tidak diselenggarakan di lingkungan pusat pemerintahan Kota Bogor.
“Ini mungkin sudah sekian lama Kota Bogor tidak menyelenggarakan kegiatan pagelaran wayang, baik wayang golek maupun wayang kulit, di Balai Kota Bogor.
Malam ini, alhamdulillah atas kerja sama dan bantuan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, kita selenggarakan Peringatan Hari Wayang Nasional di Balai Kota Bogor,” ujar Dedie dalam sambutannya.
Dedie juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Kebudayaan RI yang telah menghadirkan sejumlah pejabat penting dalam perhelatan tersebut.
Hadir di antaranya Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan RI, Frida Lusiana; Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama, Endah Retno Astuti; Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr. Restu Gunawan, M.Hum.; serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, Retno Raswaty, S.S., M.Hum.
Didampingi Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, Dedie juga mencairkan suasana melalui sejumlah candaan yang mengundang tawa para tamu undangan.
Salah satunya ketika ia menggoda Wakil Wali Kota dan Camat Bogor Barat, Dudi, yang sebelumnya turut menyumbangkan lagu.
Suasana semakin hangat saat Dedie melontarkan candaan mengenai nama pimpinan DPRD Kota Bogor.
“Kemudian hadir juga Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, ini Pak Jenal juga. Satu Jenal Mutaqin, satu lagi Jenal Abidin. Jadi, sesama Jenal dilarang saling mendahului,” kelakarnya yang disambut gelak tawa hadirin.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perwakilan Danrem 061/Suryakancana, perwakilan Dandim 0606, Kapolresta Bogor Kota,
Dandenpom 3/1 Bogor, Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Jenal Abidin, perwakilan Kejaksaan Negeri, Sekretaris Daerah Kota Bogor, jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat, lurah, serta masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Dedie secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon, atas kepercayaan yang diberikan kepada Kota Bogor untuk menjadi tuan rumah dua kegiatan kebudayaan berskala nasional secara beruntun.
Menurutnya, pada Oktober lalu Kota Bogor juga turut menyelenggarakan peringatan Hari Kebudayaan Nasional di kawasan Kebun Raya Bogor. Sementara pada kesempatan ini, Balai Kota Bogor menjadi lokasi perayaan Hari Wayang Nasional.
“Bulan lalu di bulan Oktober, Kota Bogor juga ikut serta melaksanakan kegiatan Hari Kebudayaan Nasional di Kebun Raya. Malam hari ini kita merayakan Hari Wayang Nasional di Balai Kota. Jadi, terima kasih sekali lagi, mudah-mudahan kita semua bisa menikmati,” ungkapnya.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan penampilan Dinasti Sunandar serta kehadiran sejumlah seniman dan pelawak ternama, di antaranya Sule, Nunung, dan Kiki Yuli. Penampilan para pengisi acara tersebut berhasil menghibur masyarakat yang hadir.
Menutup sambutannya, Dedie kembali mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah, khususnya kesenian wayang yang menjadi bagian dari identitas budaya Sunda.
“Dan tentu saja terima kasih untuk Dinasti Sunandar, tepuk tangan untuk Dinasti Sunandar! Terima kasih Kang Sule, Mbak Nunung, kemudian Teh Kiki Yuli. Hatur nuhun dari Balai Kota Bogor. Insyaallah kita terus melestarikan budaya dan mudah-mudahan melalui wayang kita tetap mencintai akar budaya Sunda,” tuturnya.
Acara kemudian ditutup dengan salam khas Sunda, “Sampurasun!” yang disambut serempak oleh masyarakat dengan jawaban penuh semangat, “Raharja!”
Momentum peringatan Hari Wayang Nasional ini diharapkan tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kecintaan masyarakat terhadap seni tradisional sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.
Red














