Gelar KMD Mandiri, SMK YKTB Bogor Berikan Subsidi Besar untuk Lahirkan Pembina Kompeten

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:32 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kota Bogor | Mata Pena News – Guna menjawab tantangan pudarnya minat generasi muda terhadap kegiatan kepramukaan di tingkat SLTA akibat gempuran gadget, SMK YKTB Bogor menggelar Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) Mandiri.

 

Kegiatan yang dipusatkan di sekolah dan kawasan Rancamaya ini bertujuan melahirkan pembina Pramuka yang kompeten, berkarakter, dan memiliki legalitas resmi sesuai standar Pusdiklatcab Kota Bogor.

 

Ketua Pelaksana KMD Mandiri SMK YKTB, Kusnadi, mengungkapkan bahwa kegiatan ini awalnya diutamakan untuk penguatan kapasitas guru internal YKTB. Namun, atas dasar kepedulian terhadap kemajuan Pramuka di Bogor, kepesertaan akhirnya dibuka untuk para pembina di wilayah sekitar.

“Kami tidak hanya ingin memajukan keluarga besar YKTB saja, tetapi juga merangkul para pembina di wilayah Bogor Utara, Selatan, Timur, Tengah, dan seterusnya untuk tumbuh bersama,” ujar Kusnadi saat memberikan keterangan, selasa (07/7/26).

 

Menyadari tingginya biaya operasional penyelenggaraan KMD di luaran yang jamak mencapai Rp1.000.000 hingga Rp1.050.000, pihak manajemen YKTB memberikan subsidi besar-besaran. Didukung penuh oleh Direktur Pendidikan YKTB, biaya untuk peserta luar ditekan menjadi Rp850.000 saja, sementara biaya guru internal hampir seluruhnya ditanggung lembaga.

 

“Kegiatan ini membutuhkan biaya yang sangat besar, sehingga jarang bisa digelar beberapa kali dalam setahun. Alhamdulillah, Pak Direktur sangat mendukung penuh peningkatan kualitas karakter ini,” tambah Kusnadi, yang saat ini juga tengah disupport lembaga menyelesaikan jenjang Kursus Pelatih Pembina Pramuka (KPD/KPL).

Baca Juga:  UGG Tampil di ICCIT 2026, Dosen Paparkan Riset Digitalisasi Bisnis Fotografi

 

Dari target 40 peserta, saat ini tercatat 38 peserta resmi mengikuti kursus. Dua kuota tersisa terkendala jadwal libur luar kota beberapa guru internal. Kelancaran manajemen finansial dan logistik acara ini dikawal ketat oleh Radipan selaku Bendahara Kegiatan yang dinilai gigih mempersiapkan fungsional anggaran.

 

KMD Mandiri ini menerapkan kurikulum komprehensif total 72 jam pelajaran yang dibagi menjadi dua fase:

 

• Fase Teori (Selasa s.d. Kamis): Pendalaman materi, tata upacara (perbedaan format Penggalang dan Penegak), serta metode pengujian Syarat Kecakapan Umum (SKU) secara akurat di lingkungan SMK YKTB.

 

• Fase Praktik Lapangan (Jumat s.d. Minggu): Berkemah dan simulasi riil di kawasan 3R Rancamaya, Bogor.

 

Menariknya, para guru calon pembina ini akan digembleng secara mandiri di lapangan. Seluruh logistik kendaraan menuju Rancamaya difasilitasi oleh panitia dengan titik kumpul di sekolah. Di lokasi perkemahan, para peserta diwajibkan mendirikan tenda Pramuka (kapasitas 5 orang) secara mandiri dari nol. Jika konstruksi dinilai tidak aman atau roboh, tim pelatih akan mengoreksi dan mewajibkan pemasangan ulang.

Baca Juga:  Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik

 

Tak hanya itu, untuk urusan konsumsi, panitia hanya mendistribusikan bahan mentah (natura) seperti beras dan sayur-mayur. Peserta dituntut bekerja sama memasak untuk kelompoknya melalui sistem piket (Korpiche).

 

Kusnadi menekankan, output utama dari KMD Mandiri ini adalah melahirkan pembina yang memiliki etos kerja tinggi dan jiwa kerelaan tulus membangun bangsa, mengingat dunia Pramuka didasari oleh sistem sukarela (volunteerism). Nilai bakti ini juga konsisten diterapkan YKTB, salah satunya saat menerjunkan armada sekolah untuk aksi kemanusiaan bencana longsor di Bandung beberapa waktu lalu.

 

Pasca-kegiatan, peserta wajib menyelesaikan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dalam kurun waktu 6 bulan di bawah bimbingan Kwartir Ranting (Kwarran). Keberhasilan RTL akan mengantarkan mereka ke jenjang Kursus Mahir Lanjutan (KML) untuk mendapatkan spesialisasi golongan (Siaga, Penggalang, Penegak, atau Pandega).

“Lewat jenjang lanjutan, pembina akan mengantongi lisensi resmi berupa Hak Bina dan Hak Latih dari Kwartir Cabang (Kwarcab). Ini krusial, karena jika Pramuka ditangani oleh pembina yang salah atau tanpa lisensi, anak didik justru akan takut dan menjauh dari Pramuka,” pungkasnya.

Red

Berita Terkait

Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik
UGG Tampil di ICCIT 2026, Dosen Paparkan Riset Digitalisasi Bisnis Fotografi
Lewat Riset Hidrogen, Mahasiswa UPER Sabet Juara 1 Young Scientist Competition 2026
Lantik Lebih dari 1.700 Mahasiswa Baru, UPER Siapkan Talenta Strategis Masa Depan
Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada
Pakar UPER Soroti Komunikasi di Tengah Gempa NTT, Apa yang Perlu Diperkuat?
Hadapi Variasi Ukuran Produk Tekstil, Mahasiswa UPER Rancang Alat Bantu Quality Control
Ratusan Anak TK dan KB Ikuti Lomba Mewarnai HUT ke-81 RI di Lawang Wetan
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:40 WIB

Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi, Tak Cukup Kendaraan Listrik

Jumat, 25 September 2026 - 06:55 WIB

UGG Tampil di ICCIT 2026, Dosen Paparkan Riset Digitalisasi Bisnis Fotografi

Rabu, 23 September 2026 - 15:11 WIB

Lewat Riset Hidrogen, Mahasiswa UPER Sabet Juara 1 Young Scientist Competition 2026

Selasa, 15 September 2026 - 07:55 WIB

Lantik Lebih dari 1.700 Mahasiswa Baru, UPER Siapkan Talenta Strategis Masa Depan

Kamis, 10 September 2026 - 08:41 WIB

Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Mulai Menurun, Pakar UPER Imbau Masyarakat Tetap Waspada

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB