JEPARA | Mata Pena News – Keluhan pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum *(PDAM) Tirta Jungporo Jepara* meledak di media sosial dan grup-grup warga. Warga dari *Kecamatan Batealit, Jepara Kota, Mlonggo, Bangsri, Kedung, Welahan, dan Kalinyamatan* kompak mempertanyakan kinerja PDAM yang dinilai dari dulu sampai sekarang nol.
Padahal, dana hibah dan penyertaan modal untuk PDAM disebut-sebut nilainya berhamburan miliaran rupiah setiap tahun dari APBD.
> “Bayar tiap bulan tapi air tak kunjung ada. Namanya apa kalau enggak dikorupsi? Kami di Bate bayar terus, airnya mati terus, kadang keluar tapi kayak kencing,” ungkap *Kastini, warga Batealit* dengan nada kecewa kepada Matapenanews.
*Dana Hibah Berhamburan, Kenapa Tidak Dibuat Sumur Per-Desa?*
Warga menilai, daripada menggelontorkan dana hibah terus-menerus untuk proyek yang tidak jelas hasilnya, lebih maksimal jika Pemkab Jepara membuat sumur dalam (deep well) per-desa yang dikelola desa.
> “Dana hibah berhamburan, kenapa tidak dibuatkan sumur per-desa malah lebih maksimal. Airnya jelas, dikelola desa, warga bisa menikmati. Ini PDAM sudah dikasih modal terus tapi air tetap tidak mengalir,” keluh warga Welahan.
*Jangan Hanya Konten Pamer Kinerja, Prakteknya NOL*
Warga juga menyoroti akun media sosial resmi PDAM Jepara yang dinilai hanya sibuk membuat konten pencitraan, perbaikan pipa, dan foto-foto seremonial seolah-olah kinerja PDAM nyata.
> “Jangan hanya di konten pamer kinerja tapi praktek NOL. Transparansi anggaran harus dipublikasikan. Jangan hanya konten di medsos akun PDAM seolah-olah menggiring opini biar kinerja PDAM nyata tapi NOL kinerja,” ungkap *Ariyanto, warga Jepara Kota.*
Menurut warga, transparansi penggunaan dana hibah, laporan keuangan, cakupan pelayanan, dan alasan matinya air tidak pernah dibuka ke publik.
*Desakan untuk Bupati Jepara*
Masyarakat mendesak *Bupati Jepara, Witiarso Utomo* untuk tidak hanya percaya laporan ABS (Asal Bapak Senang) dari pejabat PDAM.
> “Bupati Jepara harus melihat dan turun ke bawah diam-diam, jangan hanya dilapori laporan dari pejabat PDAM langsung percaya. Yang merasakan masyarakat, bukan pejabat PDAM,” tegas warga Kalinyamatan dan Kedung.
Hingga berita ini diturunkan, pihak *PDAM Tirta Jungporo Jepara belum memberikan klarifikasi resmi* terkait keluhan mati air di 7 kecamatan tersebut dan transparansi penggunaan dana hibah.
Redaksi Matapenanews membuka ruang hak jawab seluas-luasnya kepada pihak PDAM Jepara.
*7 Kecamatan yang Mengeluh:*
1. Batealit – Air mati berbulan-bulan, bayar tetap jalan
2. Jepara Kota – Tekanan kecil, sore-malam mati
3. Mlonggo – Pelanggan baru susah dapat air
4. Bangsri – Air keruh dan bau
5. Kedung – Sering mati tanpa pemberitahuan
6. Welahan – Mengalir kecil, tidak layak pakai
7. Kalinyamatan – Sudah bertahun-tahun langganan tapi zonk
Yuda














