Hadapi Krisis Global, UPER melalui ICONIC-RS 2025 Soroti Kolaborasi untuk Ketahanan Global

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 15 Oktober 2025 - 20:19 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta | Mata Pena News – Menurut World Meteorological Organization (WMO), selama 30 tahun terakhir (1970–2021) tercatat hampir 12.000 kejadian bahaya terkait cuaca, iklim, dan air di seluruh dunia. Sebagian besar di antaranya berupa badai, banjir, dan gelombang panas yang berdampak luas terhadap kehidupan manusia dan perekonomian global. Ironinya, jumlah populasi yang tinggal di wilayah rawan bencana justru terus meningkat. Data World Bank mencatat sekitar 1,81 miliar orang, atau 23% populasi dunia, tinggal di kawasan berisiko tinggi terhadap banjir, sementara jutaan lainnya terpapar risiko kekeringan, badai tropis, dan kenaikan permukaan laut.

Kondisi ini menegaskan bahwa tantangan ketahanan tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga sosial dan perilaku, bergantung pada kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan. Kesadaran akan kompleksitas inilah yang mendorong Universitas Pertamina (UPER) menyelenggarakan The 4th International Conference on Contemporary Risk Studies (ICONIC-RS) 2025 bertema “Navigating Global Risk: Advancing Economic Resilience, Environmental Sustainability, and Energy Security,” sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin untuk merumuskan strategi adaptif menghadapi risiko global dan memperkuat ketahanan sosial, ekonomi, serta lingkungan.

Baca Juga:  Hari Pelanggan Nasional 2026, Tirta Kahuripan Apresiasi Pelanggan Setia dengan Lima Sepeda Motor dan Voucher Belanja

Dalam sesi panel, Prof. Yuri Mansury dari Illinois Institute of Technology, Amerika Serikat, menekankan bahwa ketahanan terhadap bencana berawal dari kemampuan adaptasi masyarakat.

“Ketahanan risiko berawal dari kemampuan beradaptasi dengan kondisi yang dinamis. Hal ini dapat diwujudkan melalui diversifikasi mata pencaharian, penerapan metode ramah lingkungan, serta pencegahan pembakaran lahan untuk menjaga keberlanjutan dan keamanan energi,” jelasnya.

Melanjutkan pandangan tentang adaptasi sosial, Prof. Kenta Kishi dari Akita University, Jepang, menyoroti pentingnya perencanaan tata ruang dan desain arsitektur yang tangguh terhadap bencana.

“Wilayah Asia, termasuk Jepang dan Indonesia, memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap gempa dan erupsi. Karena itu, kekuatan bangunan tidak hanya memberi rasa aman, tetapi juga menjadi bagian penting dari mitigasi risiko. Penggunaan bahan ramah lingkungan dan teknologi responsif bencana menjadi langkah menuju arsitektur berkelanjutan,” ujarnya.

Dari perspektif ekonomi, Muhammad Rifq, Spesialis Riset Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menjelaskan bahwa ketahanan juga perlu dibangun melalui sistem keuangan yang tangguh. Setelah adaptasi manusia dan ruang fisik, ia menekankan bahwa risiko global tidak hanya bersumber dari bencana alam, tetapi juga dari konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok energi yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi.

Baca Juga:  Tiga Raperda Inisiatif DPRD Kabupaten Bogor Disiapkan, Rudy Susmanto Dorong Perlindungan dan Pelayanan Masyarakat

“Krisis di satu wilayah dapat memengaruhi sistem keuangan global. Karena itu, penguatan sektor keuangan dan manajemen risiko menjadi fondasi penting menjaga ketahanan ekonomi nasional,” paparnya.

Melanjutkan kaitan antara ketahanan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, Gigih Udi Atmo, Ph.D., Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM, menegaskan bahwa pengembangan energi baru terbarukan (EBT) merupakan strategi utama menghadapi krisis iklim sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Kolaborasi lintas sektor dalam transisi energi dapat mendorong investasi hijau, membuka lapangan kerja baru, dan meningkatkan produksi EBT hingga 3.600 GW guna mendukung target net zero emission 2060,” ujarnya.

Rangkaian pandangan tersebut menggambarkan satu kesimpulan penting: ketahanan global hanya dapat terwujud melalui pendekatan multidisipliner. Adaptasi sosial, inovasi arsitektur, stabilitas ekonomi, dan transformasi energi harus berjalan beriringan sebagai satu kesatuan sistem. Melalui ICONIC-RS 2025, Universitas Pertamina (UPER) memperkuat perannya sebagai penghubung antara riset akademik, kebijakan publik, dan tindakan nyata dalam menghadapi risiko lingkungan dan ekonomi dunia.

Berita Terkait

BKPSDM Kota Bogor Tindaklanjuti Dugaan Pungli CPNS, ASN Berinisial S Terancam Sanksi Berat
52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!
Kepala Diskarpus Jepara dan Camat Karimunjawa Dampingi Bunda Literasi Serahkan Bantuan untuk PAUD Mutiara Hati Kemujan
Bank Kota Bogor Gandeng BAM, Perluas Akses Pembiayaan Pedagang Pasar Jambu Dua
Gebyar Hari Santri 2026 Jepara, Kolaborasi Pemkab, Kemenag, IDI, TNI, PCNU dan BAZNAS
Perumda Pasar Tohaga Gelar LDK, Perkuat Kepemimpinan dan Profesionalisme Pegawai
Hari Pelanggan Nasional 2026, Tirta Kahuripan Apresiasi Pelanggan Setia dengan Lima Sepeda Motor dan Voucher Belanja
HUT ke-62 Golkar, DPD Berau Ziarah ke TMP dan Siapkan Agenda Sosial untuk Masyarakat
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:16 WIB

BKPSDM Kota Bogor Tindaklanjuti Dugaan Pungli CPNS, ASN Berinisial S Terancam Sanksi Berat

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:49 WIB

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:44 WIB

Kepala Diskarpus Jepara dan Camat Karimunjawa Dampingi Bunda Literasi Serahkan Bantuan untuk PAUD Mutiara Hati Kemujan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bank Kota Bogor Gandeng BAM, Perluas Akses Pembiayaan Pedagang Pasar Jambu Dua

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:59 WIB

Perumda Pasar Tohaga Gelar LDK, Perkuat Kepemimpinan dan Profesionalisme Pegawai

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB