Biaya Meroket Tajam, Pakar Petrokimia UPER Soroti Tantangan Berat Industri Plastik

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 20 April 2026 - 18:09 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Jakarta | Mata Pena News – Lonjakan harga minyak mentah global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu efek domino pada industri hilir, salah satunya kenaikan harga plastik sebagai produk turunan minyak bumi. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menilai peningkatan harga plastik mencapai 40 hingga 60 persen per April 2026. Hal ini dipengaruhi oleh krisis geopolitik yang mengganggu jalur distribusi minyak bumi sebagai bahan baku petrokimia, khususnya nafta.

 

Pakar Petrokimia dari Universitas Pertamina (UPER), Wegik Dwi Prasetyo, S.T., M.T., menegaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah berdampak langsung pada naiknya harga nafta. Kondisi ini secara otomatis memengaruhi harga olefin—produk turunan nafta yang menjadi bahan baku utama penyusun plastik—sehingga memicu pembengkakan biaya produksi yang signifikan pada industri polimer dalam negeri.

 

“Kilang minyak di Indonesia saat ini masih berfokus pada pemenuhan bahan bakar transportasi dan kapasitas produksi untuk bahan baku plastik domestik masih terbatas. Karena itu, industri nasional masih sangat bergantung pada impor bahan baku petrokimia dari kawasan Timur Tengah yang memiliki kapasitas produksi nafta dan olefin jauh lebih masif,” ujar Wegik.

Dokumentasi: Wegik mewakili Universitas Pertamina menyerahkan tanda apresiasi kepada pembicara pada kegiatan Green Chemistry for Industrial Excellence.
Dokumentasi: Wegik mewakili Universitas Pertamina menyerahkan tanda apresiasi kepada pembicara pada kegiatan Green Chemistry for Industrial Excellence.

Industri plastik sangat bergantung pada minyak mentah ringan (light crude oil), jenis minyak yang paling efisien untuk diolah menjadi bahan baku plastik. Saat ini, Arab Saudi merupakan pemasok utama dunia dengan produksi mencapai 9,51 juta barel per hari. (Reuters, 2025). Dominasi ini membuat harga plastik global—termasuk di Indonesia—sangat bergantung pada stabilitas pasokan dari mereka

 

Kondisi ini berdampak langsung pada Indonesia karena industri petrokimia nasional belum sepenuhnya mandiri. Meskipun memiliki cadangan Sumatera Light Crude, produksi nafta domestik baru mencapai 7,1 juta ton, padahal kebutuhan nasional menembus 9,2 juta ton per tahun. Akibatnya, Indonesia terpaksa mengimpor kekurangan 2,1 juta ton nafta dari luar negeri, yang membuat harga plastik di pasar dalam negeri sangat rentan terhadap gejolak harga minyak di Timur Tengah.

 

“Bagi masyarakat umum, dampak kenaikan harga minyak bumi ini akan paling cepat terasa pada melambungnya harga kantong plastik, kemasan pangan, dan botol minuman. Namun, ancaman lebih lanjut dari ketidakpastian situasi geopolitik juga dapat mengganggu stabilitas harga di industri ritel serta sektor Fast-Moving Consumer Goods (FMCG),” pungkas Wegik.

 

 

Sebagai langkah mitigasi, Wegik menyarankan Indonesia untuk memperkuat ketahanan bahan baku plastik melalui diversifikasi impor dari kawasan non-konflik, optimalisasi gas alam domestik via teknologi Gas-to-Olefins, serta peningkatan kapasitas kilang petrokimia. Selain itu, percepatan produksi bioplastik dan plastik daur ulang menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang tidak stabil.

 

Sejalan dengan upaya tersebut, Universitas Pertamina (UPER) turut menjadi pelaksana nasional (national executing agency) untuk The Global Greenchem Innovation and Network Programme (GGINP). Program kolaborasi internasional bersama Yale University, UNIDO, GEF, dan Kementerian Perindustrian ini bertujuan mempercepat penerapan kimia hijau (green chemistry) di industri nasional guna mengurangi ketergantungan pada bahan baku fosil.

 

“Komitmen ini kami wujudkan melalui riset inovatif program GGINP dan penguatan kurikulum Teknik Kimia melalui peminatan Sistem Proses Kimia Berkelanjutan dan Rekayasa Energi. Langkah ini bertujuan mencetak talenta unggul yang mampu menghadirkan inovasi selaras dengan poin 9 dan 12 SDGs mengenai industri inovatif serta konsumsi-produksi yang bertanggung jawab,” tutup Sekretaris Universitas Pertamina, Raden Panji Adhitiyo Putera.

Irawan

Berita Terkait

Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi
Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek
Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib
Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya
Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha
FH Universitas Pancasila Luncurkan Roadmap Transformasi 2026–2028, Siapkan Lulusan Hukum Berdaya Saing Global
Bikin Biohidrokarbon dari Karet Alam Lebih Efisien, Peneliti UPER Temukan Model Baru!
Perkuat Advokasi JKN, DPN Jamkeswatch FSPMI Lantik Pengurus DPD Cirebon Raya Periode 2026-2031.
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 05:52 WIB

Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:04 WIB

Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:55 WIB

Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB