JEPARA | Mata Pena News – Kabar membanggakan sekaligus menampar datang dari dunia seni. Di saat pemerintah daerah sibuk dengan seremonial, seorang seniman asli Jepara diam-diam membuat sejarah di tingkat nasional.
*Budi Karya*, seniman murni asal Kabupaten Jepara, resmi terpilih sebagai *satu-satunya wakil Jepara* dalam proyek seni kolosal bertaraf nasional-internasional: *”Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun”*, sebuah karya yang diproyeksikan menjadi *Lukisan Garam Terbesar di Dunia.*
Ironisnya, prestasi luar biasa ini lahir *tanpa sepeserpun support, tanpa pelukan, dan tanpa sepengetahuan Pemkab Jepara.* Budi Karya berangkat membawa nama Jepara dengan biaya, karya, dan idealismenya sendiri.
Sebanyak 10 seniman dari berbagai daerah di Indonesia resmi terpilih melalui open call yang sangat ketat untuk berkolaborasi bersama 10 seniman-petani garam Dasun. Puluhan portofolio masuk dari berbagai daerah. Para seniman terpilih membawa latar belakang yang beragam—dari komunitas akar rumput, akademisi, hingga seniman yang telah berkiprah dalam event seni internasional.
Dan nama Jepara ada di sana, berdiri sejajar dengan Yogyakarta, Jakarta, Jatiwangi. Diwakili oleh Budi Karya.
Selama empat hari, 14-17 Oktober 2026, para seniman akan menjalani residensi dan tinggal di rumah-rumah warga Dasun, Lasem, Rembang. Mereka akan belajar langsung tentang pengetahuan dan tradisi garam, sejarah garam Lasem, proses garam dari tambak hingga meja, serta kehidupan masyarakat pesisir. Sesuai tema sakral *”Memetri Kawitane Uyah”*.
Karya ini juga menjadi upaya meneruskan gagasan maestro seni rupa Indonesia, *Nasirun*, yang sebelum berpulang pada 1 Agustus 2026 sempat menggagas karya bersama tentang garam dengan petani Dasun. Kini karya itu diteruskan.
*10 Seniman Terpilih Nasional:*
Tri Wahyudi (Yogyakarta), Putut Pasopati (Pati), Prabowo Setyadi (Jatiwangi), *Budi Karya (Jepara)*, Aqilur Rachman Abdul Charizs (Jakarta), Dwiki Naufal Ilham (Lasem), Sonia Prabowo (Yogyakarta), Munna Laili Hidayana (Kediri), Kharisma Widya Kartika (Rembang), Andita Purnamasari (Yogyakarta).
Mereka akan berkolaborasi dengan Seniman-Petani Garam Desa Dasun: Tri Murti, Mulyono, Arif Yulianto, M. Sholeh, Suparlan, Mariyadi, Suparno, Agung, Anas Kristiawan, Rohmadi.
Fakta ini menjadi bukti nyata: *Seniman Jepara bisa melejit tanpa APBD. Seniman Jepara tak pernah tersentuh pemerintah, tapi justru mengharumkan nama Jepara di kancah nasional.*
Kini pertanyaannya, di mana Disparbud Jepara? Dimana pemkab Jepara yang menaungi kesenian? Saat seniman seperti Budi Karya berjuang mengangkat nama Kota Ukir dengan Lukisan Garam Terbesar di Dunia, perhatian dan pembinaan dari Pemkab Jepara masih nol besar.
Warga Jepara patut bangga memiliki Budi Karya. Dia membuktikan, dari Jepara, dari rahim Kota Ukir, lahir seniman tangguh yang tidak butuh panggung seremonial pemerintah untuk menjadi besar.
*Selamat untuk Budi Karya! Jepara Bangga Padamu!*
*Mari dukung langsung prosesnya 14–17 Oktober 2026 di Tambak Desa Dasun,
Lasem, Rembang, Jateng.
Yuda














