Ubah Air Gambut Jadi Sumber Air Bersih, Mahasiswa UPER Rancang Instalasi Air Bersih Skala Komunal

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:24 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta | Mata Pena News – Bagi jutaan masyarakat yang tinggal di kawasan gambut, memperoleh air bersih masih menjadi tantangan sehari-hari. Meski dikelilingi sumber air yang melimpah, sekitar 41 juta penduduk Indonesia yang hidup di wilayah gambut belum tentu dapat memanfaatkannya secara langsung

Karena sifat air yang asam, berwarna cokelat, serta mengandung zat organik dan logam dalam kadar tinggi sehingga harus diolah terlebih dahulu sebelum digunakan.

 

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER) yang terdiri atas Muhammad Karunia Vivaldi, Geovanny Tampubolon, Monica Septyani, Muhammad Raihan Rachman, dan Tiara Wulan Win Nedhari

Merancang Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gambut Skala Komunal melalui pembelajaran Capstone Design sebagai alternatif penyediaan air bersih yang ekonomis, mudah dioperasikan, dan berkelanjutan.

 

“Desa Indrapura kami pilih sebagai lokasi studi kasus karena karakteristiknya merepresentasikan tantangan penyediaan air bersih di kawasan lahan gambut. Konsep utama perancangan ini adalah menyesuaikan setiap tahapan pengolahan dengan karakteristik air baku sekaligus proyeksi kebutuhan air masyarakat hingga 20 tahun ke depan.

Dokumentasi: Ilustrasi instalasi pengolahan air gambut di Desa Indrapura
Dokumentasi: Ilustrasi instalasi pengolahan air gambut di Desa Indrapura

Dengan pendekatan tersebut, sistem yang dirancang tidak hanya mampu meningkatkan kualitas air, tetapi juga memiliki potensi untuk diterapkan secara berkelanjutan dan dikembangkan di wilayah lahan gambut lainnya,” ujar Vivaldi, Ketua Tim.

 

Sebelum merancang instalasi, tim menguji kualitas air gambut di Desa Indrapura. Hasil pengujian menunjukkan air memiliki tingkat keasaman (pH) sekitar 3, sedangkan air minum yang aman umumnya memiliki pH 6,5–8,5.

Selain itu, air juga berwarna cokelat pekat serta mengandung besi dan mangan melebihi baku mutu, sehingga harus diolah terlebih dahulu sebelum digunakan oleh masyarakat.

 

Dalam merancang instalasi, tim mempertimbangkan efektivitas pengolahan, biaya pembangunan, kebutuhan lahan, serta kemudahan operasi dan pemeliharaan agar sistem dapat diterapkan oleh masyarakat.

Sistem ini mengolah air melalui beberapa tahap, mulai dari menurunkan tingkat keasaman, menyaring zat pencemar, hingga pemurnian menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO). Hasilnya, air yang semula berwarna cokelat dan mengandung besi serta mangan dapat diolah menjadi air yang memenuhi standar kualitas air bersih.

 

“Kami merancang sistem yang tidak hanya efektif mengolah air gambut menjadi air bersih, tetapi juga mudah dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat. Harapannya, teknologi ini dapat menjadi solusi yang berkelanjutan bagi desa-desa yang menghadapi persoalan serupa,” tambah Vivaldi.

 

Dosen Pembimbing dari Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina, Dr.Eng. Ari Rahman, S.T., M.Eng., menilai inovasi tersebut menunjukkan bagaimana proses pembelajaran di perguruan tinggi dapat menghasilkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

 

“Melalui Capstone Design pada Mata Kuliah Proyek Terintegrasi Berbasis Lingkungan (PTBL), mahasiswa tidak hanya belajar menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga merancang solusi berbasis data yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi agar dapat diterapkan secara nyata di masyarakat,” jelas Dr. Ari.

 

Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., mengapresiasi inovasi yang dihasilkan mahasiswa sebagai wujud pembelajaran yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata di masyarakat.

 

“Pengembangan solusi untuk akses air bersih merupakan bagian dari komitmen Universitas Pertamina dalam mendukung pencapaian SDG 6 (Clean Water and Sanitation).

“Capaian kami sebagai perguruan tinggi swasta peringkat keempat terbaik di Indonesia pada kategori SDG 6 dalam THE Impact Rankings 2026 menjadi motivasi untuk terus menghasilkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Djoko.

Irawan

 

Berita Terkait

Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi
Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek
Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib
Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya
Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha
FH Universitas Pancasila Luncurkan Roadmap Transformasi 2026–2028, Siapkan Lulusan Hukum Berdaya Saing Global
Bikin Biohidrokarbon dari Karet Alam Lebih Efisien, Peneliti UPER Temukan Model Baru!
Perkuat Advokasi JKN, DPN Jamkeswatch FSPMI Lantik Pengurus DPD Cirebon Raya Periode 2026-2031.
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 05:52 WIB

Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:04 WIB

Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:55 WIB

Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB