Jakarta | Mata Pena News – Menjelang pergantian tahun 2025 ke 2026, banyak orang merasakan waktu berlalu semakin cepat, namun meninggalkan kesan hampa. Hari-hari dijalani tanpa peristiwa besar, tetapi justru memunculkan kegelisahan: target tercapai, aktivitas padat, namun hidup terasa seperti “lewat begitu saja”.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan sentimental akhir tahun. Para ahli menjelaskan bahwa persepsi manusia terhadap waktu dipengaruhi oleh cara otak memproses pengalaman, emosi, dan memori, bukan semata oleh durasi waktu itu sendiri.
Secara fisika, waktu berjalan konstan. Satu menit tetap enam puluh detik dan satu tahun tetap terdiri dari ratusan hari. Namun dalam psikologi dan neurosains, waktu dirasakan berbeda-beda oleh setiap individu. Otak manusia tidak memiliki jam internal yang objektif, melainkan menilai panjang-pendeknya waktu berdasarkan intensitas pengalaman dan jumlah memori yang tercipta.
Ketika seseorang menjalani hari dengan rutinitas yang berulang dan perhatian yang terpecah—akibat pekerjaan, gawai, dan tuntutan target—otak mencatat lebih sedikit pengalaman bermakna. Akibatnya, waktu terasa berlalu lebih cepat saat dikenang.
Kondisi ini sering kali semakin terasa seiring bertambahnya usia. Pada masa kanak-kanak, hampir setiap hari dipenuhi pengalaman baru yang meninggalkan jejak kuat dalam ingatan. Sementara pada usia dewasa, pola hidup cenderung repetitif, sehingga waktu seolah “meluncur” tanpa terasa.
Dalam perspektif Islam, kegelisahan terhadap waktu telah lama disinggung. Al-Qur’an melalui Surah Al-‘Ashr mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian jika waktu tidak diisi dengan iman, amal saleh, dan kesadaran moral
Kerugian tersebut tidak selalu berbentuk
kegagalan besar, melainkan hadir secara sunyi melalui hari-hari yang dijalani tanpa makna.
Islam juga mengenal konsep waqt, yaitu waktu yang dihidupi dengan kesadaran penuh. Dua orang dapat menjalani satu hari dengan durasi yang sama, tetapi kualitas waktunya berbeda, tergantung pada kehadiran hati dan tujuan hidup yang menyertainya. Dalam pandangan ini, waktu dipahami sebagai amanah, bukan sekadar angka pada kalender.
Psikologi modern sejalan dengan pandangan tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa perhatian penuh atau mindfulness membuat otak merekam pengalaman lebih dalam, sehingga waktu terasa lebih “hidup”. Aktivitas sederhana seperti mencoba hal baru, benar-benar mendengarkan orang lain, atau memberi jeda sadar di sela rutinitas dapat memperkaya pengalaman waktu.
Di tengah budaya serba cepat, banyak orang menjalani hidup dalam mode otomatis. Perhatian terus tertuju pada rencana berikutnya, bukan pada momen yang sedang dijalani. Akibatnya, akhir tahun kerap menghadirkan perasaan hampa dan kehilangan arah, meski secara objektif banyak hal telah dilalui.
Para pengamat menilai, refleksi akhir tahun seharusnya tidak hanya berfokus pada capaian dan resolusi, tetapi juga pada kualitas kehadiran dalam hidup sehari-hari. Kesadaran atas keterbatasan waktu dinilai dapat mendorong manusia menjalani hidup dengan lebih bijaksana.
Menjelang 2026, pertanyaan yang muncul bukan semata apa yang telah dicapai, melainkan seberapa sering manusia benar-benar hadir dalam hidupnya sendiri. Waktu tidak dapat diperlambat, tetapi dapat diisi dengan kesadaran, makna, dan nilai yang bertahan lebih lama dari sekadar angka tahun.
Red














