Mata Pena News – Nama Mahapatih Gajah Mada abadi dalam sejarah Indonesia bukan hanya karena jabatannya, tetapi karena satu tekad monumental: menyatukan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.
Melalui catatan sejarah Negarakertagama karya Mpu Prapanca, Gajah Mada dikenal dengan Sumpah Palapa, di mana ia bersumpah tidak akan menikmati “Amerta” atau kenikmatan duniawi sebelum seluruh wilayah Nusantara dipersatukan. Sumpah ini diucapkannya sekitar tahun 1336 M, ketika dilantik sebagai Patih Amangkubhumi oleh Raja Tribhuwana Tunggadewi.
Ambisi itu bukan sekadar retorika. Di bawah kepemimpinan Gajah Mada, Majapahit meluaskan pengaruhnya secara signifikan ke berbagai penjuru Nusantara. Dari catatan sejarah, wilayah-wilayah berikut disebut telah berada dalam jangkauan kekuasaan atau pengaruh Majapahit:
Sumatera: Meliputi Melayu, Jambi, dan Palembang.
Kalimantan: Termasuk wilayah Kutai dan Banjarmasin.
Sulawesi: Beberapa kerajaan kecil di pesisir menyatakan tunduk.
Bali dan Nusa Tenggara: Ditaklukkan melalui ekspedisi militer.
Maluku: Daerah penghasil rempah-rempah strategis.
Semenanjung Malaya hingga selatan Filipina: Masuk dalam jaringan pengaruh perdagangan dan diplomasi Majapahit.
Majapahit tidak hanya menggunakan kekuatan militer. Banyak kerajaan memilih menjadi bagian dari struktur kekuasaan Majapahit melalui pengiriman upeti, pernikahan politik, serta kerja sama perdagangan. Artinya, perluasan wilayah itu kerap bersifat hegemonik dan kultural, bukan murni agresi militer.
Pengaruh Majapahit mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350–1389 M), yang didampingi oleh Gajah Mada sebagai patih. Saat itulah Majapahit dikenal sebagai kerajaan terbesar di Asia Tenggara kala itu, memayungi lebih dari 90 kerajaan besar dan kecil.
Kini, lebih dari 600 tahun kemudian, Sumpah Palapa kerap disebut sebagai simbol integrasi nasional. Ia menjadi inspirasi atas ide persatuan wilayah Indonesia modern yang luas dan beragam***














