Bikin Layangan Penghasil Listrik, Mahasiswa Sabet Penghargaan

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 26 Agustus 2024 - 10:58 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta | Mata Pena News – Energi Baru Terbarukan (EBT) diharapkan dapat menggantikan energi konvensional untuk menjaga stabilitas suhu bumi. Namun salah satu kendala utama dalam transisi energi, adalah besarnya investasi. Kementerian ESDM (2023)

Memperkirakan kebutuhan dana untuk pengembangan EBT mencapai 28,5 miliar dolar AS per tahun. Padahal realisasinya pada tahun 2022 hanya sekitar 2%, yaitu sebesar 1,55 miliar dolar AS.

Berangkat dari ide penyediaan listrik yang ramah lingkungan, mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER), yaitu I Putu Krisna Adi Putra, Laela Vutri, Sophia Az-Zahro Setiawan, Gifari Fadhil Rahman, dan Syifa Sabrina,

Mengembangkan layangan penghasil listrik. Dinamai Wind Wave Power, karya mereka mengantarkan tim UPER ke jajaran 9 besar nasional dalam kompetisi bergengsi Tech Planter

“Tergerak oleh impian untuk menghadirkan cahaya di pelosok nusantara, kami mengembangkan alat yang memanfaatkan angin sebagai sumber energi. Layangan naga kami

Yang terdiri dari 45 layangan dengan panjang 25 meter, mampu menghasilkan daya 10 Watt dalam waktu 30 menit penerbangan

“Yang dapat menyalakan lampu selama 9 jam,” pungkas Krisna, selaku ketua tim dari Wind Wave Power.

Cara kerja layang-layang dalam menghasilkan listrik tersebut tergolong sederhana. Layangan terhubung dengan baling-baling yang memutar generator DC.

Kemudian energi kinetik angin dikonversi menjadi energi mekanik, untuk memutar rotor. Listrik yang dihasilkan disimpan dalam baterai berkapasitas 7,5 Ah, lalu ditransmisikan ke inverter AC 220 Volt untuk siap digunakan.

“Kami terinspirasi oleh SkySails, teknologi inovatif dari Jerman yang memanfaatkan layangan raksasa untuk mengubah energi angin menjadi daya dorong bagi kapal dan listrik.

Lalu kami sesuaikan dengan kearifan lokal Indonesia, yaitu menggunakan layangan sederhana. Setelah melakukan riset, kami menemukan bahwa layangan yang lebih panjang dan besar dapat memberikan daya angkat dan stabilitas lebih tinggi,

Meningkatkan efisiensi output-nya. Selain itu, produk kami juga dilengkapi dengan pendeteksi hujan. Jika terjadi hujan, pendeteksi ini akan secara otomatis mengirimkan sinyal ke operator layangan,” tambah Krisna.

Menariknya, karya Krisna dan tim merupakan produk berbasis riset yang dikembangkan oleh mahasiswa.

Sementara di antara delapan finalis lainnya dalam kompetisi Tech Planter, sebagian besar sudah berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Tech Planter sendiri adalah kompetisi inovasi bisnis berbasis teknologi dan pengetahuan

Yang diadakan oleh Leave a Nest, sebuah perusahaan asal Jepang, yang tersebar di wilayah Asia seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Jepang.

“Wind Wave Power adalah solusi inovatif untuk pembangkit listrik alternatif yang sederhana dan lebih terjangkau

Dibandingkan dengan turbin angin konvensional. Inovasi ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan berkolaborasi dengan Leave a Nest

Sebagai penyedia energi bersih. Saya sangat mengapresiasi inisiatif ini, terutama karena Wind Wave Power menjadi satu-satunya peserta dari kalangan mahasiswa,” ujar Aisyah Abdul Hamid, Asisten Manajer Frontier Development Division, Leave a Nest Malaysia.

Sementara itu, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir MS, turut bangga atas inovasi yang dilakukan oleh tim Wind Wave Power.

“Saya menyampaikan apresiasi yang besar kepada mahasiswa tim UPER yang berhasil menciptakan karya yang menghadirkan solusi nyata bagi energi masa depan.

Sebagai universitas yang memiliki kedekatan dengan lingkungan industri, Universitas Pertamina secara konsisten mendukung mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu dan pembelajaran di kelas melalui berbagai kegiatan

Seperti kolaborasi proyek dengan industri, riset bersama dosen dan praktisi, serta dukungan dalam mengikuti kompetisi.

“Harapannya, para lulusan dapat menjadi agen perubahan yang mampu menjawab tantangan energi global,” tutup Prof. Wawan.

Sebagai informasi, saat ini kampus besutan PT Pertamina (Persero) tengah membuka peluang untuk berkuliah di UPER. Bagi calon mahasiswa yang tertarik, dapat mengakses informasi selengkapnya melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/

Berita Terkait

Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi
Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek
Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib
Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya
Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha
FH Universitas Pancasila Luncurkan Roadmap Transformasi 2026–2028, Siapkan Lulusan Hukum Berdaya Saing Global
Bikin Biohidrokarbon dari Karet Alam Lebih Efisien, Peneliti UPER Temukan Model Baru!
Perkuat Advokasi JKN, DPN Jamkeswatch FSPMI Lantik Pengurus DPD Cirebon Raya Periode 2026-2031.
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 05:52 WIB

Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:04 WIB

Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:55 WIB

Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB