Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 15 September 2026 - 05:52 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta  | Mata Pena News – Potensi gempa megathrust di Selat Sunda dapat berdampak hingga Jakarta. Mengutip laporan Metro TV pada 12 September 2026 yang merujuk keterangan BMKG dan data BRIN, skenario gempa bermagnitudo 8,9 berpotensi diikuti tsunami yang mencapai pesisir utara Jakarta dalam sekitar 2,5 jam, dengan perkiraan ketinggian gelombang sekitar 0,5 meter. Gambaran potensi ini menjadi dasar untuk menyiapkan langkah mitigasi, sehingga penyampaiannya perlu memperjelas bahwa angka tersebut bukan kepastian waktu maupun dampak kejadian.

 

Pentingnya kejelasan tersebut ditekankan oleh Pakar Komunikasi Risiko Kebencanaan Universitas Pertamina (UPER), Dr. Ir. Farah Mulyasari. Menurutnya, angka magnitudo dan perkiraan tsunami tanpa konteks dapat menimbulkan kecemasan, sementara warga yang merasa jauh dari sumber bahaya justru dapat mengabaikan kebutuhan untuk bersiap. Karena itu, penjelasan mengenai skenario perlu dihubungkan dengan risiko di wilayah masing-masing serta langkah kesiapsiagaan yang dapat dilakukan masyarakat.

Dr. Farah bersama tim melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Luwuk, Sulawesi (2026)
Dr. Farah bersama tim melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Luwuk, Sulawesi (2026)

 

“Masyarakat cenderung merespons ancaman berdasarkan kedekatan spasial, sehingga diperlukan strategi komunikasi yang mengkalibrasi ulang pemahaman mereka terhadap bahaya,” ungkap Farah.

 

Dalam konteks megathrust, masyarakat membutuhkan penjelasan tentang keterkaitan potensi bahaya dengan tempat tinggal dan aktivitas sehari-hari. Kajian potensi bencana juga perlu dibedakan dari peringatan atas kejadian yang sedang berlangsung agar tidak dipahami sebagai kepastian gempa akan segera terjadi.

 

Farah menyoroti bahwa istilah teknis kebencanaan perlu diterjemahkan menjadi petunjuk yang mudah dipahami. Penjelasan ilmiah harus dihubungkan dengan tindakan praktis melalui kanal yang dekat dengan masyarakat. Pendekatan ini dapat diterapkan dengan memberikan panduan mengenali jalur evakuasi, menyusun rencana komunikasi keluarga, serta mengakses informasi resmi sesuai kondisi wilayah.

Di media sosial, kejelasan pesan perlu diikuti ketelitian memeriksa informasi. Dokumentasi bencana lama yang disebarkan kembali tanpa keterangan berpotensi menimbulkan salah pengertian dan memperbesar kekhawatiran masyarakat.

 

“Warga perlu kritis terhadap foto atau video dramatis yang beredar dan pastikan visual tersebut memiliki konteks dan cap waktu terkini, bukan dokumentasi dari bencana masa lalu,” jelasnya.

 

Farah mengingatkan masyarakat untuk memeriksa sumber, waktu, dan konteks informasi sebelum membagikannya, dengan merujuk BMKG serta panduan BNPB dan BPBD. Media juga perlu menjelaskan skenario di balik perkiraan dampak bencana, disertai panduan tindakan yang jelas agar informasi membantu masyarakat bersiap.

 

“Warga perlu kritis terhadap foto atau video dramatis yang beredar dan pastikan visual tersebut memiliki konteks dan cap waktu terkini, bukan dokumentasi dari bencana masa lalu,” jelas Farah.

 

Sejalan dengan pentingnya penyampaian informasi kebencanaan yang mudah dipahami, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menekankan peran perguruan tinggi dalam menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan masyarakat.

 

“Universitas Pertamina mendorong kolaborasi ilmu kebumian dan komunikasi untuk memperkuat literasi kebencanaan. Pemahaman tentang sumber dan potensi bahaya perlu diterjemahkan menjadi informasi yang membantu masyarakat mengenali risiko di sekitarnya serta memahami langkah kesiapsiagaan yang dapat dilakukan,” ujar Ichsan.

Irawan

Berita Terkait

Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek
Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib
Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya
Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha
FH Universitas Pancasila Luncurkan Roadmap Transformasi 2026–2028, Siapkan Lulusan Hukum Berdaya Saing Global
Bikin Biohidrokarbon dari Karet Alam Lebih Efisien, Peneliti UPER Temukan Model Baru!
Perkuat Advokasi JKN, DPN Jamkeswatch FSPMI Lantik Pengurus DPD Cirebon Raya Periode 2026-2031.
Ubah Air Gambut Jadi Sumber Air Bersih, Mahasiswa UPER Rancang Instalasi Air Bersih Skala Komunal
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 05:52 WIB

Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:04 WIB

Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:55 WIB

Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB