Bikin Biohidrokarbon dari Karet Alam Lebih Efisien, Peneliti UPER Temukan Model Baru!

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:16 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta | Mata Pena News – Di tengah upaya mempercepat transisi energi, Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan karet alam sebagai sumber biohidrokarbon.

Sebagai produsen karet alam terbesar kedua di dunia dengan produksi sekitar 2,6 juta ton per tahun, pengembangan teknologi ini berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas nasional.

Namun, proses produksinya masih membutuhkan banyak uji coba untuk menemukan kondisi yang paling optimal.

 

Pakar bioenergi sekaligus dosen Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina (UPER), Dr. Ir. Laksmi Dewi Kasmiarno, bersama peneliti dari sejumlah institusi

Kemudian mengembangkan model volatile-state kinetics yang mampu memprediksi hasil konversi karet alam menjadi biohidrokarbon. Pendekatan ini membantu mengurangi proses trial and error sehingga pengembangan teknologi dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.

Dok.: Dr. Laksmi menerima penghargaan sebagai pembicara dari sekor akademis dalam kegiatan Rubber Week
Dok.: Dr. Laksmi menerima penghargaan sebagai pembicara dari sekor akademis dalam kegiatan Rubber Week

 

“Model ini memungkinkan kami memperkirakan jenis dan jumlah biohidrokarbon yang akan dihasilkan pada berbagai kondisi pirolisis sebelum melakukan banyak pengujian di laboratorium.

Dengan tingkat kesesuaian yang sangat tinggi terhadap hasil eksperimen, pendekatan ini dapat membantu mengurangi proses trial and error sehingga pengembangan teknologi menjadi lebih efisien,” jelas Dr. Laksmi.

 

Biohidrokarbon merupakan bahan bakar yang berasal dari bahan-bahan hayati, seperti tanaman, dan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kimia. Dr. Dewi dan tim memanfaatkan metode pirolisis untuk mengubah karet alam menjadi biohidrokarbon.

 

“Pada proses pirolisis, karet alam dipanaskan pada suhu 300–600 derajat Celsius dalam kondisi minim oksigen selama sekitar 30 menit. Panas tersebut memecah rantai panjang penyusun karet menjadi senyawa yang lebih sederhana.

Senyawa yang menguap kemudian didinginkan hingga menjadi minyak biohidrokarbon, sedangkan sisanya menjadi gas yang juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Dengan mengatur suhu dan waktu proses secara tepat, kami dapat mengoptimalkan pembentukan produk bernilai tinggi sekaligus meminimalkan limbah yang dihasilkan,” jelas Dr. Laksmi.

Dok.: Dr. Laksmi sebagai pembicara dalam kegiatan Rubber Week yang diselenggarakan oleh PTPN (PT Perkebunan Nusantara)
Dok.: Dr. Laksmi sebagai pembicara dalam kegiatan Rubber Week yang diselenggarakan oleh PTPN (PT Perkebunan Nusantara)

 

Menurut Dr. Laksmi, optimasi proses tersebut menghasilkan biohidrokarbon dengan karakteristik yang mendekati bahan bakar diesel sekaligus menghasilkan berbagai senyawa bernilai ekonomi.

“Biohidrokarbon yang kami hasilkan memiliki nilai kalor 43,8–45,3 MJ/kg, mendekati bahan bakar diesel komersial. Pada kondisi optimum, sekitar 84,5 persen hasil pirolisis berupa produk cair yang juga mengandung senyawa bernilai ekonomi, seperti limonene, toluena, dan xilena.

Temuan ini menunjukkan bahwa karet alam tidak hanya berpotensi menjadi sumber energi terbarukan, tetapi juga bahan baku bagi industri kimia,” ujar Dr. Laksmi.

 

Temuan tersebut tidak hanya membuka peluang pemanfaatan karet alam sebagai sumber energi terbarukan, tetapi juga memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan teknologi konversi biomassa yang lebih efisien.

Model yang dikembangkan tim peneliti berpotensi diterapkan pada berbagai jenis biomassa lain sehingga dapat membantu mempercepat penelitian dan pengembangan biohidrokarbon di masa mendatang.

 

Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., mengapresiasi capaian tersebut sebagai wujud kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi berbasis sains untuk mendukung transisi energi nasional.

 

“Universitas Pertamina berkomitmen menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tantangan industri melalui penguasaan sains, rekayasa, dan inovasi. Di Program Studi Teknik Kimia, mahasiswa dibekali kompetensi melalui peminatan Teknik Sistem Proses Kimia Berkelanjutan dan Rekayasa Energi serta Material Maju untuk Energi dan Pengembangan Proses,

Sehingga mampu mengembangkan solusi bernilai tambah dari sumber daya lokal. Penelitian ini menjadi contoh bagaimana pembelajaran dan riset dapat melahirkan inovasi yang mendukung ketahanan energi sekaligus pembangunan berkelanjutan,” tutup Prof. Djoko.

Reporter : Irawan

Berita Terkait

Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi
Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek
Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib
Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya
Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha
FH Universitas Pancasila Luncurkan Roadmap Transformasi 2026–2028, Siapkan Lulusan Hukum Berdaya Saing Global
Perkuat Advokasi JKN, DPN Jamkeswatch FSPMI Lantik Pengurus DPD Cirebon Raya Periode 2026-2031.
Ubah Air Gambut Jadi Sumber Air Bersih, Mahasiswa UPER Rancang Instalasi Air Bersih Skala Komunal
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 05:52 WIB

Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:04 WIB

Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:55 WIB

Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB