Inovasi Briket Ramah Lingkungan Bawa Mahasiswi ke Afrika Selatan

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 22 Mei 2024 - 09:02 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

Jakarta | Mata Pena News -Hutan menjadi kunci dalam keseimbangan karbon di udara. Studi yang dilakukan Maryville University (2022) mendapati selama 3 dekade sampai 2020, hutan dinilai efektif menyerap karbon sebesar 25% dengan total penyimpanan sebesar 55,93 juta metrik ton karbon.

Ironisnya, statistik menunjukkan bahwa deforestasi maupun degradasi hutan terus terjadi. Organisasi yang bergerak dalam konservasi sumber daya alam, Auriga Nusantara (2023), mencatat deforestasi dan degradasi hutan pada 2023 mencapai 257.384 hektar. Terpantau lebih luas dibanding tahun sebelumnya yakni 230.760 hektar.

Salah satu penyebab deforestrasi adalah untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar konvensional. BPS mendata, penggunaan kayu bakar atau arang masih mendominasi setelah elpiji sebagai kebutuhan energi rumah tangga, terutama pada wilayah terpencil sebesar 9,19%. Padahal, nilai dari faktor emisi dari hasil pembakaran kayu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gas LPG.

Ialah Ni Kadek Karian Dewi, Mahasiswa Program Studi Ekonomi Universitas Pertamina (UPER), berhasil menciptakan alternatif dengan mengganti bahan bakar kayu atau arang menjadi briket yang berasal dari sampah sorgum. Berkat inovasinya tersebut Karin berhasil menjadi perwakilan wilayah Asia Pasifik dalam Global Students Entrepreneur Awards (GSEA) 2024 di Afrika Selatan.

“Biasanya di wilayah pedesaan, bahan bakar konvensional utama dalam rumah tangga menggunakan kayu bakar atau arang. Namun karena hal ini menimbulkan permasalahan, inovasi briket dari limbah sorgum ini dapat menjadi energi alternatif. Dengan keuntungan 2 kali lipat lebih lama dan harganya yang relatif murah, briket sorgum tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pengganti kayu bakar atau arang,” pungkas Karina.

Pengembangan briket ramah lingkungan tersebut didasari bahwa di Buleleng, Bali, sorgum menjadi komoditas utama mata pencaharian penduduk. Dengan luas lahan 30 hektar, panen sorgum dapat mencapai 3 ton per hektar dan di panen dalam 3 kali per tahun. Jumlah yang cukup besar ini juga menyumbang keberadaan limbah sorghum yang besar pula. 85% tanaman sorghum diantaranya berakhir menjadi limbah.

Selain permasalahan sampah sorgum yang melimpah, kesejahteraan petani sorgum juga menjadi tantangan di wilayah Buleleng. Berdasarkan BRIN (2023) diketahui harga per kilogram sorgum berkisar Rp. 10.000 hingga Rp. 21.000, tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan petani dalam budidaya sorgum.

“Jika limbah sorgum dibakar, maka hal tersebut dapat melepaskan jejak karbon. Oleh karena itu, saya turut bermitra dengan sahabat semasa saya bersekolah dalam mengembangkan briket ramah lingkungan yang kami namai Bioghum. Bioghum menjadi sebuah langkah kecil untuk membantu petani dan mengatasi masalah limbah sorgum,” tambah Karin.

Dengan komposisi 75% batang sorgum, 25% daun sorgum, dan 15% bahan pengikat serta pembuatan briket yang masih dicetak secara manual, Karina bersama dengan timnya berhasil menciptakan briket ramah lingkungan. Bahkan mendapatkan bantuan pendanaan awal hingga 115 juta.

“Setelah mendapati komposisi yang ideal, kami turut melakukan tinjauan lanjut, dan didapati bisa mengurangi dampak karbon sebesar 32% atau 198,2 kg karbon per bulan. Semula harga sampah sorgum hanya sebesar Rp. 350 per kilo namun ketika menjadi briket dapat dijual hingga harga Rp. 18.000 per pak, dengan kata lain pembuatan bioghum mampu menambah nilai added value limbah sorghum hingga 51 kali lipat” tutup Karin.

Dalam perhelatan GSEA 2024 di tahap penyisihan global yang dilaksanakan di Singapura pada April 2024, Karin turut dibantu oleh Haykal Sulthan Hakeem, mahasiswa Prodi Ekonomi UPER berhasil menyapu 1.400 peserta dan mengalahkan 8 finalis lainnya yang berasal dari Thailand, Jepang, Filipina dan Bangkok. Karin bersama tim berhasil melangkah menjadi perwakilan wilayah Asia Pasifik untuk berkompetisi di tahap internasional.

Prestasi cemerlang Karina turut mendapatkan perhatian dan dukungan dari Rektor UPER. Menurut Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir MS., capaian Karina menjadi salah satu pemantik bagi mahasiswa lainnya dalam upaya menjawab tantangan global seperti transisi energi dan menciptakan energi bersih dan terjangkau.

“Sebagai kampus yang berorientasi pada sektor teknologi dan bisnis energi serta tumbuh di lingkungan Pertamina, kegiatan belajar mengajar disesuaikan dalam tujuan keberlanjutan. Misalnya melalui peminatan Energy and Economic Sustainability di Prodi Ekonomi, mahasiswa diajarkan dalam berpikir kritis, dan berinovasi dalam menghasilkan energi yang tidak hanya ramah lingkungan namun juga dapat terjangkau bagi semua kalangan. Selain itu, kami juga melibatkan mahasiswa dalam kegiatan riset kolaborasi dengan industri dan ahli dan magang di industri,” jelas Prof. Wawan.

Sebagai informasi, saat ini kampus besutan PT Pertamina (Persero) tengah membuka peluang untuk berkuliah di UPER. Bagi calon mahasiswa yang tertarik, dapat mengakses informasi selengkapnya melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/

Berita Terkait

Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi
Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek
Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib
Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya
Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha
FH Universitas Pancasila Luncurkan Roadmap Transformasi 2026–2028, Siapkan Lulusan Hukum Berdaya Saing Global
Bikin Biohidrokarbon dari Karet Alam Lebih Efisien, Peneliti UPER Temukan Model Baru!
Perkuat Advokasi JKN, DPN Jamkeswatch FSPMI Lantik Pengurus DPD Cirebon Raya Periode 2026-2031.
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 05:52 WIB

Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:04 WIB

Tak Cukup dari Buku, Dosen UPER Kenalkan Transisi Energi lewat Pembelajaran Berbasis Proyek

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Kepsek SDN Karadenan Berharap Disdik Segera Bantu Sarana Sekolah yang Raib

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Aren Jaya

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:55 WIB

Terima Perwakilan PT John Toys Indonesia Korea, Bamsoet Dorong Kolaborasi Kampus dan Dunia Usaha

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB