Bisakah Gempa Ganda seperti di Venezuela Terjadi di Indonesia? Pakar UPER Beri Penjelasan Ilmiahnya

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 4 Juli 2026 - 13:58 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta | Mata Pena News – Fenomena gempa ganda (seismic doublet) yang mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6) waktu setempat menjadi perhatian para ahli karena tergolong sangat langka.

Rangkaian dua berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang terjadi hanya dalam selang 39 detik menewaskan sedikitnya 1.943 orang, melukai lebih dari 10 ribu orang, serta memaksa lebih dari 15 ribu warga mengungsi berdasarkan laporan otoritas setempat hingga 30 Juni.

 

Menurut pakar kebumian sekaligus dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, M.Si., besarnya dampak gempa di Venezuela dipengaruhi oleh fenomena seismic doublet, yaitu dua gempa besar yang terjadi hampir bersamaan dalam waktu sangat singkat.

Meski jarang terjadi, fenomena ini dapat memperparah dampak bencana karena masyarakat harus menghadapi dua guncangan besar dalam waktu yang nyaris bersamaan.

“Pada kasus di Venezuela, gempa pertama diduga memicu pergerakan patahan aktif di sekitarnya sehingga terjadi gempa kedua yang kekuatannya lebih besar hanya 39 detik kemudian. Rangkaian guncangan inilah yang dapat memperparah dampak kerusakan dibandingkan jika hanya terjadi satu gempa besar,” jelas Iktri.

 

Menurut Iktri, wilayah utara Venezuela berada di pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan yang didominasi oleh sesar geser (strike-slip), yaitu patahan yang menyebabkan dua bagian kerak bumi saling bergeser secara mendatar.

Pergerakan yang terus berlangsung membuat tekanan di sepanjang patahan terus menumpuk hingga akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.

 

Meski terjadi di Amerika Selatan, Iktri menilai fenomena tersebut memiliki relevansi bagi Indonesia yang sama-sama berada di kawasan tektonik aktif. Menurutnya, karakteristik geologi serupa juga dijumpai di sejumlah wilayah Indonesia sehingga pembelajaran dari peristiwa ini penting untuk memperkuat upaya mitigasi bencana di dalam negeri.

Gempa Mentawai-Bengkulu pada 2007 maupun gempa Lombok pada 2018 menjadi contoh bahwa rangkaian gempa besar dapat terjadi akibat aktivitas tektonik yang saling berkaitan. Ketika terjadi gempa besar, tekanan di dalam kerak bumi dapat berubah dan memicu pergerakan pada patahan atau zona subduksi di sekitarnya sehingga memunculkan gempa berikutnya.

 

“Rangkaian gempa seperti yang terjadi di Venezuela juga berpotensi terjadi pada sejumlah jalur patahan aktif di Indonesia, termasuk Sesar Sumatera dan Palu-Koro. Karena itu, mitigasi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemetaan wilayah rawan dan pembangunan infrastruktur yang aman hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat,” ujar Iktri.

 

Salah satu bentuk mitigasi tersebut ialah pemetaan kerentanan seismik yang menjadi dasar penyusunan tata ruang dan pembangunan infrastruktur tahan gempa. Pendekatan ini diterapkan Iktri melalui penelitian kolaboratif di kawasan pesisir Teluk Palu menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR)

Yang menunjukkan adanya wilayah dengan tingkat kerentanan seismik tinggi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa informasi mengenai tingkat kerentanan suatu wilayah perlu menjadi dasar dalam penyusunan tata ruang, pembangunan infrastruktur, dan standar bangunan tahan gempa agar risiko kerusakan dapat dikurangi.

 

Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., mengatakan bahwa peristiwa di Venezuela menjadi pengingat bahwa investasi pada riset kebencanaan sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur.

 

“Sebagai perguruan tinggi yang memiliki keunggulan di bidang energi dan kebumian, Universitas Pertamina berkomitmen memperkuat riset, inovasi, serta kolaborasi lintas disiplin dalam mendukung mitigasi bencana di Indonesia.

Pembelajaran dari berbagai peristiwa global menjadi dasar untuk menghasilkan rekomendasi berbasis bukti yang dapat meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap risiko bencana,” ujar Prof. Djoko.

Irawan

Berita Terkait

KAI Wisata Hadirkan Penawaran Eksklusif “Experience Luxury” di KAI Expo 2026 Kota Kasablanka
RIBUAN PENONTON PADATI CGC PALEMBANG, TIMELESS PROJECT LIVE “PLAYING 2000s ANTHEM” PECAH TOTAL
Inovasi Lapas Cibinong Tuai Apresiasi Nasional, Sampah Organik Disulap Jadi Sumber Ketahanan Pangan Lewat Budidaya Maggot
Ingin Tembus Perusahaan Multinasional? Intip Tips Alumni Universitas Pertamina
Peramina EP Limau Tambah Pasokan Energi Lewat Sumur Pengembangan di Muara Enim
Pakar Ekonomi UPER: Hilirisasi Biodiesel Jadi Kunci Amankan Ekonomi Nasional Menuju B50
Energi Baru dari PEP Zona 4, Sumur LBK-030 di Muara Enim Berpotensi Produksi 3.073 BOPD
Pemkot Bogor Jajaki Teknologi BRIN, Olah Sampah Plastik Jadi BBM
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 07:51 WIB

KAI Wisata Hadirkan Penawaran Eksklusif “Experience Luxury” di KAI Expo 2026 Kota Kasablanka

Minggu, 30 Agustus 2026 - 08:27 WIB

RIBUAN PENONTON PADATI CGC PALEMBANG, TIMELESS PROJECT LIVE “PLAYING 2000s ANTHEM” PECAH TOTAL

Jumat, 7 Agustus 2026 - 09:25 WIB

Inovasi Lapas Cibinong Tuai Apresiasi Nasional, Sampah Organik Disulap Jadi Sumber Ketahanan Pangan Lewat Budidaya Maggot

Jumat, 10 Juli 2026 - 20:51 WIB

Ingin Tembus Perusahaan Multinasional? Intip Tips Alumni Universitas Pertamina

Sabtu, 4 Juli 2026 - 13:58 WIB

Bisakah Gempa Ganda seperti di Venezuela Terjadi di Indonesia? Pakar UPER Beri Penjelasan Ilmiahnya

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB