Redaksi Berkisah,
Kisah Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul: Keteladanan Anak yang Taat pada Allah dan Rasul-Nya
Oleh: Rudi Irawan
Pembaca yang dirahmati Allah SWT,
Rubrik Mata PenaNews kali ini mengajak Anda menelusuri kisah seorang pemuda dari kalangan Anshar yang namanya tak banyak tercatat dalam sejarah populer, namun keberanian dan keteguhan imannya menggema sepanjang zaman. Dialah Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul.
Ayahnya, Abdullah bin Ubay bin Salul, dikenal sebagai pemimpin kaum munafik di Madinah—tokoh yang kerap menyebar fitnah dan menebar kebencian terhadap Rasulullah SAW. Namun, berbeda dari sang ayah, Abdullah bin Abdullah justru menunjukkan cinta yang tulus kepada Islam dan Nabi Muhammad SAW.
Suatu hari, setelah Perang Bani Musthaliq, ayahnya mengucapkan perkataan yang merendahkan kaum Muhajirin dan Rasulullah. Ia berkata: “Sungguh, jika kita kembali ke Madinah, orang yang mulia (maksudnya dirinya sendiri) pasti akan mengusir orang yang hina (yakni Rasulullah).” Perkataan ini sampai ke telinga Nabi SAW dan mengguncang hati para sahabat.
Mendengar kabar tersebut, Abdullah bin Abdullah segera datang menghadap Rasulullah dan berkata dengan penuh kesungguhan:
“Wahai Rasulullah, aku mendengar sendiri ucapan ayahku. Jika engkau menghendaki, aku akan membunuhnya. Tak ada orang yang lebih layak melakukan hal itu selain aku.”
Namun Rasulullah SAW, dengan kelembutan dan kebijaksanaannya, menolak permintaan itu. Beliau bersabda bahwa beliau tidak ingin umat berkata Muhammad membunuh sahabatnya sendiri. Rasul memilih memaafkan Abdullah bin Ubay dan membiarkannya tetap hidup.
Yang luar biasa, ketika ayahnya hendak memasuki Madinah, Abdullah bin Abdullah menghadangnya di gerbang kota dengan pedang terhunus. Ia berkata dengan tegas:
“Demi Allah, engkau tidak akan memasuki Madinah sampai Rasulullah sendiri mengizinkanmu. Engkau yang berkata bahwa orang hina harus diusir—maka hari ini aku akan tunjukkan siapa sebenarnya yang hina.”
Akhirnya, sang ayah pun tak bisa masuk ke kota kecuali setelah Rasulullah memberikan izin.
Pembaca yang budiman,
Kisah ini memberikan pelajaran besar bahwa keimanan sejati tidak tunduk pada hubungan darah atau kepentingan pribadi. Abdullah bin Abdullah bin Ubay menunjukkan bahwa kebenaran harus dijunjung tinggi, bahkan bila itu berarti harus berseberangan dengan orang tuanya sendiri. Inilah keteladanan iman yang tulus dan keberanian yang langka.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dan meneladani keberanian Abdullah dalam menjunjung agama Allah dan menghormati Rasul-Nya.
Salam hormat,
Tim Redaksi Mata PenaNews














