Kolaborasi Riset Mikroplastik UPER dengan Dua Universitas Asia Raih Pendanaan 1,4M

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 14 November 2024 - 15:52 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

Mata Pena News – Pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang pesat menyebabkan produksi sampah plastik di Asia Tenggara melonjak hingga 31 juta ton pada 2021 (We Are Forum, 2023). Permasalahan sampah plastik makin menjadi disebabkan sifat sampah plastik yang tidak dapat terurai, hanya terpecah menjadi bagian yang lebih kecil atau disebut mikroplastik.

Mikroplastik adalah partikel plastik kecil berukuran kurang dari 5 mm. Akumulasi mikroplastik menimbulkan konsekuensi serius bagi kehidupan laut, ekosistem, dan lingkungan karena hanya 9% sampah plastik yang di daur ulang (We Are Forum, 2023). Global Waste Management United Nations (2024) mencatat bahwa Asia Tenggara menyumbang hingga 60% dari total mikroplastik di lautan global, yang telah terdeteksi di ekosistem perairan, baik di laut dangkal maupun sedimen pantai.

Untuk itu, tiga institusi pendidikan tinggi di Asia Tenggara bekerja sama dalam penelitian kolaboratif guna menangani isu mikroplastik. Terdiri dari Universitas Pertamina (UPER) melalui program studi Teknik Lingkungan, Asian Institute of Technology (AIT), dan Ho Chi Minh City University of Industry and Trade (HUIT), yang didanai oleh Asia-Pacific Network (APN) for Global Change Research.

Dalam pembukaan forum penelitian ‘Enhancing the Science-Policy Interface to Manage Microplastic Influx from Major Cities into the Oceans in Southeast Asia’ di Universitas Pertamina pada 9 Oktober 2024, Prof. Dr. Ir. Rr. Erna Sri Adiningsih, M.Si., Direktur Eksekutif INASA, sekaligus perwakilan APN di Indonesia, menegaskan pentingnya diskusi tentang penanganan mikroplastik yang secara tidak langsung berdampak pada kesehatan manusia.

Baca Juga:  Raperda Perubahan APBD 2026 Disepakati, Pemkot Bogor Fokus Perkuat Pelayanan Publik

“Laporan Our World in Data (2021) mendapati sebanyak 81% sampah plastik masuk ke laut Asia, khususnya di kawasan Asia Tenggara yang menjadi hotspot dalam berlabuhnya sampah plastik tersebut. Sayangnya sampah ini tidak dikelola dengan baik. Akibatnya mencemari biota laut dan mengontaminasi sumber pangan manusia,” ungkap Prof. Erna.

Dr. Wenchao Xue dari Asian Institute of Technology, Thailand, sebagai Project Leader, memaparkan tujuan riset untuk mengatasi ancaman lingkungan akibat mikroplastik dengan mengembangkan sistem komprehensif. “Sampah mikroplastik di Asia Tenggara adalah masalah yang mengkhawatirkan. Diharapkan kolaborasi penelitian antara tiga perguruan tinggi dari tiga negara dapat menghasilkan solusi efektif untuk mengatasi isu ini. Dengan demikian, kami berharap dapat menciptakan sistem yang ideal untuk mengukur masuknya mikroplastik ke dalam perairan,” ungkap Dr. Wenchao.

Proyek kolaborasi riset terkait mikroplastik di perairan Asia Tenggara akan dilaksanakan melalui skema Collaborative Regional Research Programme (CRRP) dengan dana sebesar 1,4 miliar rupiah. Penelitian ini akan dilakukan di Indonesia, Thailand, dan Vietnam, dimulai dengan meninjau hasil penelitian sebelumnya. Riset ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk menyelaraskan temuan dengan kebijakan dan situasi lapangan, berlangsung selama dua tahun.

Baca Juga:  Beauty World Executive Clinic Growth Summit 2026 Dorong Klinik Aesthetic Indonesia Naik Level: Dari Clinical Excellence hingga AI-Powered Growth

Melihat pentingnya pengelolaan mikroplastik ini, Dr. Simon Guerrero Cruz, Assistant Professor dari Asian Institute of Technology (AIT), Thailand, sebagai partisipan riset juga menyebutkan bahwa mikroplastik tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan namun turut berdampak pada produksi gas rumah kaca.

“Hasil riset menunjukkan bahwa mikroplastik dapat mengganggu siklus karbon di lautan dengan mempengaruhi mikroorganisme yang berkontribusi pada serapan dan penyimpanan karbon. Sebagai alternatifnya ekosistem mangrove yang memiliki ekologi kompleks, dapat meningkatkan perkembangan mikroorganisme. Sehingga, keberadaan mangrove dan mikroorganisme dapat membantu menguraikan mikroplastik dan menurunkan emisi gas rumah kaca,” pungkas Dr. Cruz.

Sejalan dengan Dr. Cruz, partisipan riset lainnya yaitu Dr. Thi-Kim-Quyen Vo dari Ho Chi Minh City University of Industry and Trade di Vietnam, serta Mutita Wattanasuk dari Asian Institute of Technology, Thailand, mengungkapkan bahwa masing-masing negara saat ini tengah melakukan eksplorasi mikroplastik di berbagai wilayah untuk memahami pengelolaan sampah mikroplastik.

Sebagai informasi, saat ini kampus besutan PT Pertamina (Persero) tengah membuka peluang untuk berkuliah di UPER. Bagi calon mahasiswa yang tertarik, dapat mengakses informasi selengkapnya melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/

Berita Terkait

tes
BURUH GERUDUK KANTOR LPSK JATIM! JAMKESWATCH FSPMI DESAK KEPASTIAN BIAYA PENGOBATAN KORBAN PENGANIAYAAN MOJOKERTO
HIPMI Bogor, Bekasi, dan Depok Gelar Business Matching, Libatkan 150 Pengusaha Muda
Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan
POTENSI WISATA DESA IKONIK BISA MATI JIKA DSPARBUD TUTUP MATA
H.M Saifudaulah SH.MH.M.Pd.I ,Dari PKS(partai keadilan sejahtera)Serap Aspirasi Warga RW 06 kelurahan jati Waringin, Soroti Masalah Banjir dan drainase.
Rekrut Tenaga Ahli Bergelar Profesor, Jamaludin Malik Terlibat Adu Komentar dengan Akun Info Jepara Terkini
Sekretaris DPN Jamkeswatch FSPMI Heri Irawan Sosialisasikan JKN kepada Bidang Perempuan PUK SPEE FSPMI PT Honoris Industry
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:49 WIB

tes

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:35 WIB

BURUH GERUDUK KANTOR LPSK JATIM! JAMKESWATCH FSPMI DESAK KEPASTIAN BIAYA PENGOBATAN KORBAN PENGANIAYAAN MOJOKERTO

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:36 WIB

HIPMI Bogor, Bekasi, dan Depok Gelar Business Matching, Libatkan 150 Pengusaha Muda

Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:05 WIB

Dirut PPJ Bogor Siapkan 70 Lapak dan Kios, PKL Pasar Gembrong Bakal Ditertibkan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:32 WIB

POTENSI WISATA DESA IKONIK BISA MATI JIKA DSPARBUD TUTUP MATA

Berita Terbaru

Daerah

52 Jalan di Jepara OTW Mulus di 2026!

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:49 WIB

News

tes

Jumat, 23 Okt 2026 - 10:49 WIB